Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2016

DONG DONG

Unknown
Ajari aku tentang kejujuran
Yang menghinakan kebaikan
Hahahhah....
Mereka yang aku benci
Hihihi tangisan ini
Laksana orang gila yang telanjang di jalan raya
Aduhhhh semua memang busyit 
Aiiiii.... kau ini bagaimana
Iya.. mereka merakit kedustaan
Apa yang harus kulakukan
Ajari  akau tentang kesabaran, meskipun tanpa ikhlas mendampingi

Sukses kekasih baruku =LS
Meskipun aku tak bisa mencintai dan dicintai oleh usus, ginjal, paru-paru dan empedu yang ada dilamnya

Organ-organ busyit

KAYA YAYA YAYA YAYA

Unknown
Heeyyyy kamu......
Harusnya kau tahu, faham dan mencontoh negriku,
Tahukah engkau tentang negriku ini
Negriku amat kaya...
Rayanya kaya, pulaunya kaya, alamnya kaya, semuanya kaya,
Aku sampai heran dibuatnya
Orangnya juga kaya,,,
Kaya akan kelicikan pula,
Kaya akan keserakahan, kaya akan otak,
Yang aku sayangkan negriku negriku miskin satu hal
Hanya satu dan sangat memprihatinkan
Negriku miskin hati nurani..
MEMPRIHATINKAN....

By: Asyfi

kekosongan penuh akan makna

Unknown
Gugurnya daun tak selamanya karena kering
Terbangnya burung tak seluruhnya karena ringan
Kokohnya pohon tak hanya karena besar
“saya terdzholimi” menjadi tameng sang pengobral nafas belaka
Yang terbuai dengan lantunan indah ayat-ayat pelindung raga
                Negara ku….
Kau negaraku….
Merka pemimpinku?
Iya kah?
Penuh Tanya dibalik selendang emas selempang tanah
Rupiah….
Kau mata uangku… memang benar…
Tapi tikus-tikus berdasi telah memakan rupiah ku…
                Aku harus bagaimna?
Haruskah berteriak  maling
Apakah harus diam saja?
Atau bahkan, haruskah kuracuni tikus-tikus berdasi itu dengan kotoran mereka sendiri?
Beda air, beda penghuni
Beda warna beda usaha
Beda sumur, beda isi
Memang benar adanya
                Mereka semakin membodohiku,
Membodohi dengan cara sangat bodoh….

Hahahahaaha….
Tawaku membumbung tinggi di udara dan berlabu di gentong tua milik pak lurah

by: Asyfi

Kenric Indonesia

Unknown
Kegelapan sirna ketika datangnya badai kejujuran
Kahancuran yang mulai pudar dengan adanya pemimpin kebijakan
Pemimpinn???
Iya.... memang pemimpin
Mereka pemimpin
Manakala mereka tidak dipimpin kecuali oleh syahdunya harapan rakyat

Eloknya, janganlah kau menjadi pemimpin yang pandai bersandiwara
Pemimpin pandai bersandiwara, merajuk dan menggeliat di kehangatan selimut mahasiswa
Pemimpin yang pandai bersandiwara,
Seakan akan ia menangis
Tapi di saat itulah dia sebenarnya tertawa

Pemimpin bijaksana
Pemimpin yang lebih kuat dari kebaikan

Dan lebih  lemah dari keburukan.

by: Asyfi

Selasa, 30 Agustus 2016

Indonesia Punya Pemuda?

Unknown


Ingatkan aku jikalau aku melakukan kesalahan
Ingatkan aku jikalau aku lupa oleh amanah
Ingatkan akau jikalau aku terbuai
            Pemuda tumpuan negara
Laksana kesegaran udara di pagi hari
Kesegaran udara pagi yang belum tercampur dengan uap-uap orang munafik
Aku pemuda baru
Jangan nampakkan kepada ku pemuda yang berjiwa tua
Yang tak menyadari bahwa dia kelak  dilalap tanah
Heiii.... Tuhannn...
Jadikan aku pemuda baru yang selalu tau
Jangan jadikan dia pemuda lawas yang korupsi uang maupun kertas
Agar akupun tak nodai kesegaran udara di pagi hari
Agar aku selalu ingat
Agar aku tak jadi pemuda lawas yang disiksa dengan amplas-amplas talas
              

Karya: asri as
    




Jumat, 27 Mei 2016

Sepi

Unknown
                                    Kulangkahkan waktu seiring bayangmu
                        Memudar dalam khayalan petik lamunan
            Membunuh suasana sunyi, hampa menerpa
Jamah suasana hati melepas sekat-sekat rindu

                                    Menerawang jauh lalui tatapan batin
                        Damba hadir cahaya, ku rebahkan jasad
            Di ranjang kamar, ku nanti terbit mentari
Tak kuasa hempas hasrat lepas belenggu rindu

                                    Hampa rindukan wangi
                        Bersama dirimu arungi waktu yang sepi
            Kupejamkan mata melukis wajahmu
Dalam remang khayalan

                                    Kupandangi bintang di gelapnya malam
                        Seakan kau ada di sana . . . .
            Ku raih dalam relung-relung kalbu
Melepas belenggu jeratan sepi



Bangkalan, 29 Maret 2016

Oleh Kholilur Rohman

Rabu, 18 Mei 2016

--Kutu atau Sekutu—

Unknown

Kau ini menggerogoti bagian perih yang ku sembunyikan..
Topengmu itu terlalu manis sayang, matamu indah meski terlalu licik..
Tarian bibirmu indah sekali, manis sekali.. tapi lihatlah tarian lidahmu sangat melukai, sangat menyaktikan, duhai kasih
kau ini apa? kau menggrogoti keperihanku, kau tusuk seonggok nanah ditubuhku..
kau ini kutu atau sekutu sayang? Bergerombol, menyerang, menghambat aliran darah dalam tidurku.. 
Kau ini kutu atau sekutu, sayang?

                
Bangkalan, Desember 2015
  Oleh: Arum Puriani

Sabtu, 23 April 2016

Pesan Senja Pelabuhan Ujung

Unknown
Bhing? Cong?
Tak usah kau bedebah dengan para punggawa itu
Negaramu morat-marit bhing..
Kekuasaan membekukan hati nurani mereka
Singgah saja di setiap sudut Pelabuhan
Cukupkan saja hatimu dengan iman dan otakmu dengan ilmu
Jangan tengadahkan tanganmu, berusahalah mengulurkan tanganmu tuk memberi

Bhing.. Cong..
Belajarlah bernegoisasi dengan si empu-Nya hidup
Untuk hidup yang lebih baik di negaramu.
Negaramu yang tak kunjung memerdekakanmu dari buta huruf

Bhing.. Cong..
Bila langit oranye menyapa atap-atap Pelabuhan Ujung
Hanyutkan lelahmu bersama suara ombak selat yang menghantam
Tenggelamkan kepalamu dalam sajadah..
Mulailah bernegoisasi dengan runtutan do’a



Bangkalan, November 2015

Oleh Arum Puriani

Minggu, 03 April 2016

Kode Ilusi

Unknown

Langit dan bumi tak akan menyatu

Pikiran hanya maya tak berujung

Matamu, nada bicaramu, irama jantungmu

Tak henti...

Seperti kode-kode ilusi

Kode ilusi rangkaian bualan senja

Datang dalam separuh keindahan

Berakhir dalam kegelapan malam panjang



Bangkalan, 1 April 2016

Oleh YIS


Minggu, 20 Maret 2016

Negriku Bukan Dongeng

Unknown

Dalang mengangkang depan cermin tipu daya

Sepuluh menit dari jantungmu
Hantu-hantu berlarian mengejar dari balik kuburan
Ike…kau bisu dengan bunga dua tanda terengkuh di dada
Sorot bulan bermuka ngenes melihat negerimu didaulat kegelapan
Ike… epos baru saja lahir dari desamu yang tak terlihat di peta
Catatan sejarah bertambah kaya
Menjadi dongengan kelak buat anakmu

Arggh….

Kau tak mampu lagi menjerit meski dalam hati
Hatimu penuh lebam pemberontakan
Kabut mengusap air mata dari ketegangan
Menjilati bau busuk hantu-hantu
Merangkak tertubruk lebam ayahmu
Dongeng-dongeng adalah asal kesakitan demi kesakitan
Nyanyian guruh menggaung
Kecemasan darah sebagai tanda
Malam ini kau saksikan bulan dicabut dari rumahmu

Telungkup memeluk tangis pada tanah dengan ribuan memar, sobekan, hingga ketegangan darah

Menyadap mata bening anak-anakmu
Tergores darahnya noda abadi
Kesakitan demi kesakitan menjadi jalan panjang sejarah

Ike…



Bangkalan, 06 November 2015

Oleh Anggun PAM

Titik

Unknown
                 

Titik titik dalam titik koma dalam koma dan koma,  , , ,

Pertanda titik dalam goresan sebelum titik.....

Cukup berikan kepastian tuan...

Cukup berikan bukti nyata tuan...

Jangan ranjaukan kata janji yang kami anggap palsu...

Hanya pilihkan antara titik dan koma saja...

Itu tidak sulit tidak sukar tuan...

Akan kuyakini dengan pasti setelahnya...

Hanya dan hanya antara dua pilihan kecil...

Hentikan tuan kumohon...

Hentikan...
Hentikan...
Hentikan!



Bangkalan, 2015

Oleh Ilma Tsania

Senin, 07 Maret 2016

Kisah

Unknown
Tidakkah kau lihat unta
Telah panjangkan langkahnya
Mengalir dari matanya
Cucur deras air mata
Kisah ini pernah ku alami
Saat ku pergi jauh
Tinggalkan duniaku
Tinggalkan sahabatku
Dan tinggalkan kisah indah bersamanya
Demi menempa diri menjadi insan lebih agung
    Di tanah rantau ini
    Ku mulai lembaran kisah baru
    Bersama perantau haus keingintahuan
    Di sini kutemukan sahabat-sahabat baru
    Di sini kutemukan keluarga baru
    Yang selalu hadir dalam sulitku
Terima kasih tuhan
Karena bimbingan-Mu
Ku bisa mengisi lebaran kisah baru
Bersama sahabat dan keluarga baruku

Bangkalan, 2015

Oleh Kholilur Rahman



Minggu, 06 Maret 2016

Hanya pada Malam

Unknown
Riuh derkuku menyimpan Tanya dalam kegelapan
Hawa malam mengambang
Menghadirkan aroma pekat yang menghujam dalam jiwa

Seperti terlahir dari Rahim asing yang keparat
Lalu terlempar dari labirin tak bernama
Mereka bernyanyi dalam malam panjang
Merangai-rangai seperti mengharapkan rangkulan

Mata bukan sekedar mata
Mereka memancarkan kilau yang menawan
Menyisahkan sedikit tawa pada sebuah penyesalan
Birahi memenuhi tubuh mereka

Suara jangkrik mengusik gendang telinga
Menyusuri malam pekat yang jauh dari keramaian
Mereka tak henti-hentinya melafalkan dalil yang tak bermakna
Megotori diri dengan gumpalan darah tanpa busana

Gemuruh angin seakan runtuh
Para jelatah menghampiri mereka dengan bongkahan kertas merah
Menciptakan air asin yang menetes dari dalam tubuh
Membagi malam dengan hawa yang temaram

Mereka diam
Hanya tubuh mengeliat mencari buih-biuh padat yang mengkilat
Menaburinya dengan sedikit ludah tanpa aroma
Bukan cinta, melainkan gairah

Bangkalan, 2015

Oleh f4

Kamis, 25 Februari 2016

Sore Ini

Unknown
Oleh Amalia Anggi Trina

Perjalanan sore ini
Perjalanan tanpa tujuan
Ditemani sepi
Di sepanjang jalan Pelabuhan Kamal
Kepulan asap mesin
Diterpa hembusan angin
Meliuk-liuk di udara
Sebagai simbol pertahanan diri
Seakan tahu perasaan yang menerpa diriku
Yang meliuk-liuk
Di atas sebuah kebimbangan hati
Mengatasnamakan
cinta
Demi sebuah jabatan
Tragis, sungguh dirasakan
Cinta demi sebuah jabatan
Berkeliaran di zaman metropolitan
Hingga kini aku jadi korban
Mengakhiri perjalanan
Masih tanpa sebuah kepastian
Karena hati masih bimbang.

Bangkalan, 2015



Diantologikan dalam antologi puisi Rampak Naong oleh Dewan Kesenian Jawa Timur

Jawa-Madura

Unknown
Oleh Amalia Anggi Trina

Celurit Carok Cerewet
Kata yang slalu terngiang
Tatkala dengar
Madura
Di sini aku berdiri
Di antara dua pulau
Jawa-Madura
Melintas luas di samudra
Bayangan takut berselimut
Dalam lingkaran kabut
Bersemayam dalam hati yang kalut
Tatkala melintasi laut
Tersenyum
Ketika, aku berhasil
Melintasi luas samudra
Jawa-Madura
Kutemukan taxi
Yang sangat ekonomis sekali
Ternyata hanya sebuah tradisi
 Angkot di masa kini
Takjub, saat kulihat
Gedung pencakar langit
Berdiri di antara sawah dan ilalang
Dan kutemukan sebuah kehidupan
Ternyata stereotip yang kubuat
Tak seperti yang kubayangkan
Karena semua mempunyai makna kehidupan

Bangkalan, 2015



Diantologikan dalam antologi puisi Rampak Naong oleh Dewan Kesenian Jawa Timur

Senin, 30 November 2015

Lingga Musna

Unknown

Muka masam perlahan mulai pudar

Tergantung rapi di atas tanah tandus yang murka

Sebongkah batu yang diukir karena ketegaran

Kini meleleh dengan sebongkah penyesalan

Perjuangan mewarnai segalanya

Tetapi, harapan tak lagi sama

Kaum muda menjilat keteguhanmu

Tak sepadan dengan apa yang telah

kau lakukan untuk negerimu

Masih sanggupkah kau berdiri tegak?

Menatap awan dengan keteguhan jiwa

Masih sanggupkah kau bertahan?

Sedang kau terancam punah karena lambaian jaman.



Oleh: Ifha

Bangkalan, 08 November 2015

Rabu, 25 November 2015

Menara Lima Belas Mercusuar

Unknown


Mulai dari anak tangga terbawah
Tentu semangat
Samapai pada lantai dua
Lantai tiga, hingga lima
Masih semangat
Hingga lantai ke tujuh
Penat, hampir menyerah
Semangat yang penuh paksaan
Ketika tiba pada lantai yang ke lima belas
Disuguhkan oleh alam
Tambang garam, pantai, hingga laut
Apa yang tak kau jumpai dari atas sana?
Semilir angin membelai diri
Sejuknya menenangkan hati
Menyaksikan senja
Membentuk siluet yang menari-nari


Bangkalan, 10 November 2015

(Yanies Purwarini)

diantologikan dalam antologi puisi Rampak Naong oleh Dewan Kesenian Jawa Timur

Aku Anak Pelabuhan

Unknown


Berlarian ke sana ke mari
Para penumpang turun
Ibarat bintang jatuh
Dan aku berharap pada mereka
Itu profesiku

Aku punya cita
Jangan kau anggap aku tak setara,,,
Mungkin kau Tanya tentang sekolah

Aku punya cita-cita,,
“Sulis pengen jadi doktek kak”
Itu jawab ku saat kakak yang sering datang pada
Sabtu Minggu..
Sekolah ku di sini,,
Di bawah senja di atas jalan pelabuhan
Di bawah fajar dan matahari aku masih mencari
Turunnya berbagai macam bintang
Tapi aku masih punya cita yang lebih tinggi darimu

                                                                                                   Pelabuahan Kamal, 05 November 2015

(Fathiyatul Karima)

diantologikan dalam antologi puisi Rampak Naong oleh Dewan Kesenian Jawa Timur