Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Gadis Penggembala

Unknown
     
        Setiap kali aku datang ke kamarnya, belum sempat kuganti seragamku. Dia lebih dulu memanggilku.”Sil! Sisil! Terno nang sumur Sil!” Suara serak itu merajuk mencariku. Kata paman dan bibi-bibiku yang lain, aku adalah cucu kesayangannya.

              Anaknya  berlima beserta enam cucu. Apabila berkumpul, lengkaplah sudah keluarga besar Sutikno. Dan itu hanya terjadi di hari Raya Idul Fitri. Anak bungsunya seorang gadis idiot, telah meninggal 10 tahun lalu di kursi roda ketika usianya menginjak 16 tahun. Anak keempat belum juga dikaruniai momongan di usia pernikahannya yang ke 16 tahun. Dan akulah anak sulung dari anak lelakinya yang ketiga. Mungkin karena hobiku memasak bubur sum-sum. Rupa-rupanya telah menjadikan kedekatan batin antara Mbokku dan aku di antara kelima cucu-cucunya yang lain. Mbokku sangat menyukai bubur sum-sum dengan kuah gula merah yang disiram di tengah-tengahnya. 

       “Dalem Mbok.” Aku pun menjawab panggilannya. Aku langsung memapah tubuh kering Mbokku keluar kamar. Kuletakkan tas ranselku di atas meja tv. Sudah seperti biasa, sesampai di pinggiran sumur kududukan ia di kursi kayu, langsung kulepas kebayanya. Kumandikan Mbokku seperti aku memadikan bayiku sendiri. Tiga sampai lima guyur sudah cukup untuk membasahi kulitnya yang makin kisut terkeriputi masa. Sabun Harmoni kugosokkan lembut ke seluruh tubuh Mbokku. Aromanya menyeruakkan buah anggur, menimbun bau apek tubuh Mbokku yang sudah udzur. “Rambut sampean tak kuncir ya Mbok! Nanti tak pupuri ben sampean ayu lorok-lorok.” Hal yang paling aku suka adalah mendandani Mbokku setelah mandi. Kubayangkan saat aku bermain boneka barbie. Kusisir rambutnya yang tinggal 1/8 bagian dan kukuncir tinggi-tinggi karena aku terinspirasi pada film Jinny Oh Jinny, yang sedang tenar-tenarnya waktu itu. Lalu pipi, kening, dan leher lembab yang lemaknya telah mengendur itu kuusap tebal-tebal dengan bedak bayi. Harum, sekarang Mbokku sudah harum. “Nek angon wedus ojo adoh-adoh nganti kedung penampung kali yo Nduk..bahaya panggone. Trus ojo sampek wedosmu mangani tandurane wong-wong tani nang sawah.” Begitu pesan Mbokku setelah aku selesai mendandaninya dan mendudukkannya di kursi teras depan rumah. Pekerjaan rutin yang dilakukan orang yang sudah udzur  umur pun udzur kesehatan adalah duduk santai di kursi goyang, jika tak punya kursi goyang seperti Mbokku ya dengan kursi plastik. Kupandang matanya sedang menatap ke masa depan yang mengerikan dan masa lalu yang beragam memberi kenangan. Kenangan  tentang kesalahan, tentang pengorbanan, dan tentang cinta yang telah  terukir bersama orang-orang terkasih selama hidup. 

              Ketika Mbokku sudah menyinggung tentang kambing, artinya aku disuruhnya segera pulang ke rumah untuk menunaikan kewajibanku sebagai gadis penggembala. Mbokku selalu mewanti-wanti agar aku berhati-hati saat mengembalakan kambingkku. Tempat-tempat yang rawan bahaya adalah bendungan kali di desaku yang terkenal kedalamannya hingga 1.500 meter. Juga sawah petani yang telah dipasang perangkap racun ataupun semprotan insektisida untuk tanamannya yang hijau menggoda mata kambing-kambingku itu. Aku harus waspada jika tak ingin kambing-kambingku mati keracunan atau tenggelam di kali saat mereka asyik merumput.

          Beberapa kali Mbokku telah masuk rumah sakit karena penyakit diabetes. Bahkan sekarang sudah menjadi komplikasi. Kadang-kadang berganti-gantian dengan kakekku yang juga keluar masuk ruang operasi. Juga karena komplikasi. Kami keluarga besar Sutikno berganti-gantian merawat dua orang tua  itu. Dengan teratur empat anak Sutikno yang kini telah berumah tangga, datang menengok. Seringkali ibuku menyuruh aku kadang juga adikku untuk mengantarkan ketela rebus atau labu rebus kesukaannnya, kadang bubur sum-sum bikinanku sendiri.

          Jika sepulang sekolah tak singgah ke rumah keluarga besar Sutikno aku biasa pulang terlebih dulu ke rumah keluarga kecilku. Jarak rumahku dengan rumah keluarga besar Sutikno tidaklah terlampau jauh. Hanya berkisar 250 meter, sehingga aku sering menempuhnya dengan berjalan kaki. Sambil menuntun seutas tali tampar yang ujungnya berakhir pada leher dua ekor kambing yang sedang hamil tua.

         Dulu hanya sepasang anak kambing yang kupunya. Itu pun pemberian kakekku. Suami Mbokku itu adalah penggembala kambing yang tekun. Hingga puluhan jumlah kambingnya beranak pinak. Namun sekarang raib karena habis terjual untuk biaya berobat dan sebagian sudah dibagikan kepada anak-anaknya sebagai hibah atau warisan, pun aku tak mengerti. Binatang itu sudah dua tahun diberikan pada keluargaku sebelum puluhan kambingnya raib. Kubesarkan sejak aku duduk di bangku SMP hingga beranak pinak dan dijual untuk kebutuhan sekolahku dan adikku.

          Alangkah sukar dan tidak enak jadi gadis penggembala kambing. Di saat teman sebayaku sibuk dengan penampilan dan merek motor pacar barunya, aku masih bercengkrama dengan kedua kambingku di sawah dan kebun-kebun tebu tepi kali sampai larut Maghrib. Terkadang aku pulang dengan menenteng sekarung rumput atau kayu bakar sisa batang-batang tebu. Aku mencarinya bersama ibu-ibu pencari kayu bakar di sana. Aku merasa sangat eman jika waktuku terbuang sia-sia hanya kuhabiskan untuk menunggu kambing-kambing yang gethol merumput. Maka aku sering meninggalkan mereka dengan mengikatkan talinya  di pangkal batang tebu. Lalu aku mengikuti ibu-ibu yang mencari kayu bakar dari sisa-sisa pembakaran tebu, kayu bonggol jagung, atau kayu pohon kelorak yang tumbuh di pinggiran kali. Kadang bersama anak-anak lelaki desaku mencari ikan atau kejeng sejenis kerang sungai di sepanjang kali saat airnya surut selutut.  

           Hal yang tidak mengenakkan jika aku berpapasan dengan teman sekolahku di jalan. Aku takut menjadi bahan  ledekan dan cemoohan di sekolah. Namun aku cukup berbahagia karena selama ini belum ada teman sekolahku yang mengetahui pekerjaanku, kecuali Andre tetanggaku yang juga satu sekolah denganku. Entah bagaimana pandangannya tentang gadis sepertiku menurutnya. Aku tak peduli terhadapnya karena kami tak berteman akrab. Toh rerimbunan semak dan deretan pohon tebu dapat kujadian tempat sembunyi jika aku melihat teman sekolahku kebetulan lewat.

           Ibuku seorang ibu rumah tangga yang kini telah bekerja serabutan di tempat-tempat konveksi. Sekaligus ia menjualkan hasil jahitannya sendiri, door to door keliling rumah-rumah penduduk. Tidak mudah seorang wanita mendapat izin bekerja dari suaminya. Aku merasa turut gembira saat ibuku dapat membeli sebuah helm bekas dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.

           Hingga tiba suatu hari aku merasakan kejanggalan dan keanehan terjadi pada keluarga kecilku. Ibu tidak lagi menolongku jika aku pulang terlalu larut malam. Bahkan aku disuruhnya mengembala sampai tempat-tempat yang jauh hingga ke desa tetangga. Ketika pulang sekolah pun tak ada makanan kudapatkan tersaji di meja makan. Maklum aku tahu ibuku belum pulang dari kerja. Biasanya dua atau tiga jam lagi ia pasti pulang. Kalau tidak ada bahan-bahan yang bisa kumasak biasanya aku langsung pergi ke sawah sambil menggembalakan kambing-kambing kesayanganku. Harapan akan kelahiran anak-anak kambing dua bulan lagi telah menghapus rasa lelah dan laparku yang kubawa dari sekolah. Terbayang akan semakin banyak kambingku nanti sebagai tabungan biaya sekolah. Dan aku semakin semangat memanjakan mereka ke tempat-tempat di mana rumput segar tumbuh.

        Duniaku menjadi dewasa karena dengan pekerjaanku itu aku tahu jerih payah kehidupan. Kutahu rasanya gagal panen petani di sawah, kutahu rasanya ibu-ibu pencari kayu bakar dan pencari ikan yang berjuang di kali demi tetap mengepulkan asap dapur. Hal-hal itu menjadikan aku lupa akan perseteruan adu bantah antara ibu dan bapakku yang sekarang kerap terjadi tiap-tiap malam. Berita buruk tentang keluarga kecilku telah menambah runyam kesehatan Mbokku. Ibuku didesas-desuskan punya simpanan. Bapakku didesas-desuskan seorang tempramen yang selalu bertindak kasar pada istrinya. Atas desas-desus bapakku itu aku pun pernah menyaksikan ibuku yang kecewa saat bapakku menendang kukusan di atas tungku, karena tak sabar menanti masaknya nasi yang ditanak ibuku. Ibuku lagi-lagi disalahkan tidak becus sebagai istri. Uang belanja pun sudah tak rutin lagi ia berikan. Sehingga ini berdampak pula pada uang sakuku dan uang saku adikku.
                  
         Hal yang membuat kupingku panas ketika gugatan-gugatan perceraian terdengar dari luar kamarku ketika malam tiba. Amat mengecawakan dan menjadi bahan pikiranku ketika prestasiku di sekolah pun turun drastis sampai peringkat bawah. Aku yang biasanya menduduki posisi-posisi penting menjadi bahan perbincangan teman-temanku karena mereka prihatin atas turunnya semangat belajarku.

              Mbokku pun meninggal saat aku ada dan menunggui di sampingnya, saat mendekati hari-hari yang makin merunyamkan pikiranku. Tiga hari itu ia baru pulang dari rumah sakit. Tepat ketika surat perceraian sudah tertandatangani antara ibu dan bapakku. Dadaku semakin sesak. Antara marah, kecewa, dan kehilangan semua harapan. Panas rasanya pelupuk mataku tiap-tiap hari semenjak runtutan kejadian-kejadian itu.

           Aku pun ditambah tidak mengerti kenapa kakekku malah menyalahkan aku atas kepergian Mbokku. Menuduh aku dan keluarga kecilku menjadi penyebab kematiannya. Semata-mata kematian Mbokku terjadi karena ia terus memikirkan tentang diriku. Tentang kelakuan ibu dan bapakku. Hal yang membuatku merasa tak punya siapa-siapa lagi sebagai tempat berlindung. Kini aku sendiri dan benar-benar sendiri. Ibuku tak pulang. Bapakku tak pulang. Adikku pergi karena terus menangis. Ia akhirnya dirawat salah seorang saudara, yang memang lama tak dikaruniai anak.

           Malam-malamku hanya ditemani embikan suara kambing melonglong panjang. Lolongan yang mewakili sedikit dari rasa kehilanganku. Mungkin aku memang ditakdirkan menjadi gadis penggembala, pikirku. Sendirian, berteman dengan puluhan kambing di ladang savana sepi dan terbuka.

        Saat aku terbangun dari tidur beratku. Saat aku tersadar dari mimpi savanaku. Saat aku membuka kandang kayu. Di saat yang itulah kutemukan kambingku berlumuran darah di bagian pantat dan kaki belakangnya. Melahirkan dua anak kambing dan  kutangani sendiri sisa-sisanya. Tiada Bapak tiada Ibu yang mau menghapus darah amis di tanganku. Di saat tetes darah, peluh, dan air mata, yang tak lagi dapat kubedakan. 


Oleh Anggun Putri
Iliustrasi: internet
            

Minggu, 27 Maret 2016

Rumah di Sisi Batu Putih

Unknown
Melalui jalan setapak ini, aku berjalan lurus sambil menundukkan pandangan ku. Aku tak peduli meskipun tukang buah menatap, mengharap aku yang membelinya pertama kali siang ini. Melalui barisan-barisan batu putih di pinggir jalan. Sejenak ku berhenti memandangi pagar hitam ini, saat ku lihat engkau sedang memanjakan diri dengan kekasihmu. Kembali ku langkahkan kaki ini pada tujuannya. Meski berat ku rasa, antara sadar dan tidak dia berhenti di bawah pohon cemara. Ku perhatikan buahnya jatuh satu persatu. Panas siang ini membuatnya tak dapat bertahan pada ranting yang diterpa sinar mentari. Sehingga ia berjalan pada tujuannya untuk menjadi benih baru.

Melihat lelaki gagah di bawah pohon pinus, tubuhnya yang kuat dan kekar perlahan-lahan membungkuk membayangkan masa lalunya. Penyesalan-penyesalan yang terus menghantui hidupnya.

Dia melepas ransel di pundaknya. Segala sesuatu yang ia pikul ditinggalkan begitu saja. Resah dalam batinnya tak kunjung lenyap begitu saja. Sering kali dia memandang ke atas berharap lebih besar, terkadang dia melihat ke bawah mensyukuri bahwa dia tidaklah lebih hina. Dia maju untuk menemukan jati dirinya, terkadang dia harus mundur dari persimpangan takdirnya. Bukan untuk khianat tapi untuk kebaikan hidupnya. Kiranya raja tak akan sempurna tanpa seorang ratu, maka begitu pun aku tak akan sesempurna kehadiranmu di sisiku. Namun apa gunanya kita bahagia bila orang lain menderita.

Ku pendam lagi semua beban ke dalam ranselku. Aku tak menginginkan tuhan menjauh dari diriku. Tapi aku semakin jauh dari mu kekasihku. Biarlah aku bersama tuhanku lebih dahulu.

Lelaki gagah ini kembali merancu untuk memutuskan perkara yang hadir kala itu. Dua pilihan yang harus pilih. “Tak mungkin rasanya mundur dari dua pilihan ini. Sebab aku telah masuk pada jurang yang dalam, sebaiknya aku tak memperdalam lagi jurang ini” ucapnya.

Kini dia bersimpuh di hening malam. Mengabadikan keluh kesahnya pada seluruh alam. Keringat dingin bercucuran hingga kini akalnya telah tenggelam. Segala urusannya ia tinggalkan. Peluh dingin membuat ia lemas dan terdiam. “Mengapa aku tidak dapat mensyukuri nikmat tuhan. Apa yang harus aku lakukan” dia hanya dapat berbicara pada tuhan dengan kejujuran hati yang paling dalam.

Semua berawal dari waktu ketika ia bersama kekasihnya di pondok bambu di pematang sawah, duduklah dia berhadap-hadapan. Perempuan manja itu selalu menatapnya walau terlihat malu-malu. Tiba-tiba ia merebahkan tubuhnya, bersandar pada pundaknya seraya berkata “maukah engkau menjadi imamku, akankah engkau tinggal bersamaku”. Ucapan yang sangat indah melebihi kata romantis lainnya. Perasaan gundah dan bimbang muncul saat itu. Dia hanya tersenyum mengacapkan kata “iya” dengan keragu-raguan. Sungguh mulia niat perempuan itu. Tak sanggup bagiku untuk mengatakan kata “tidak” saat itu.

Namun benih telah tumbuh, tak mungkin lagi dia berada di ujung ranting induknya. Penyesalan tinggallah penyesalan. Mengapa nasib ini tak ku optimalkan. Lidah telah terlanjur berkata. Meskipun hati masih memendam rasa suka. Lelaki itu tak lagi punya tujuan, dia telah salah memutuskan.

Mengulang sejarah baru....

Tak mungkin aku dapat membuat sejarah baru.....

“Paman, mengapa engkau tak mengatakan sejak dulu, bahwa ada perempuan yang menyukaiku. Sekarang aku tak tahu apa maksudmu. Siapa sebenarnya perempuan itu. Datangkanlah bidadari kepadaku tuhanku. Tapi aku tak sanggup meninggalkanmu ranselku. Engkaulah tanggung jawabku. Aku akan memikulmu tanpa ada siapa pun karena tidak mau melihatmu”.

Batu yang dia ukir dengan pisau sekian lama, kini telah terpendam oleh batu yang lain. Masih dia teduh kayu putih, dia datangi oleh seorang yang tak dia kenal lalu berkata, “Bidadari itu dikejar bukan ditunggu kedatangannya, fokuslah dulu untuk perbaiki hidup. Sesungguhnya orang yang baik pasangannya yang baik pula”. ia tak mengindahkan perkataan orang itu. Seperti busur yang lepas tanpa arah begitulah baginya pesan itu.

            Sampai saat di tidur malamnya dia tak pernah menelan mimpi yang sempurna. Dia selalu terjaga karena mimpinya. Sudah bertahun-tahun dia seperti ini. Badannya mulai ringan dan penyakitan. Di setiap sakitnya dibantulah dia oleh teman-temannya untuk berobat. Bahkan oleh orang yang dia sukai dulunya. Obat dari dokter hanya menyembuhkan rasa sakit di tubuhnya bukan untuk menyembuhkan batinnya. Percuma obat itu ada di tempat tidurnya namun hanya ia lirik semata. Tidak di telannya obat itu karena percuma.

“Sudah kau minum obat ini?” pertanyaan biasa yang ia dengar bila ada yang menjenguk dia

Terkadang, pada teman akrabnya dia hanya menoleh saja.

Tak cukuplah ia dalam hidupnya melakukan salat Jumat 40 kali berturut-turut. Konon kata orang desa, “siapa yang dapat menunaikan salat Jumat 40 kali berturut-turut, maka pahalanya sama dengan orang  yang sedang menunaikan ibadah haji di Baitullah”

“Kalau kau tak bisa melakukan salat Jumat, setidaknya engkau minum obat ini” ucap Lulu seorang temannya yang selalu bersama dia bila akan pergi salat Jumat.

“Untuk apa aku menelan obat ini, di kalau aku telah sembuh belum tentu ia menjadi kekasihku lagi. Aku telah lama mengukir masa depan bersamanya. Kini ukiran itu telah tertutup oleh batu yang lain”.

“Tak perlulah engkau mengingatnya, yang penting sehatlah engkau lebih dulu, supaya engkau dapat menggapai cita-citamu. Bukankah engkau punya cita-cita sebelumnya. Orang tua mu tidak sudi engkau menderita seperti ini, dia selalu berusaha membuatmu bahagia. Apa yang akan kamu balas padanya. Cita-citamu sangat mulia, Telanlah, kemudian istirahatlah. Setelah salat Jumat aku akan kemari”.

“Dalam hatinya dia sangat menyukai orang itu, apakah karena sikap ku ini dia menghindar dari ku? Apakah karena aku tak memberi perhatian lebih akibat beban yang ku bawa ini? Bagaimana bila ia setia dengan kekasihnya yang baru? Bagaimana bila aku mencoba merebut dia dari pasangannya kini? Bagaimana bila dia tidak mau? Bagaimana caranya supaya dia kembali ke dekapanku? Bagaimana bila dia melakukan hal yang da senonoh bersama pasangannya? Bagaimana bila dia tidak sesuci saat bersamaku? Apakah dia akan kembali padaku dalam keadaan sesuci dulu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul dalam pikirannya. Seakan-akan tiada lagi harapan hidup di dunia ini bila kekhawatirannya terjadi.

Dia membawa perempuan dari sisi batu putih itu. Kejutan yang sangat tak terduga sore itu.

“Bersama siapa kau kemari?” Ucap lelaki itu dengan terbata-bata

“Tak perlu kau pikirkan mengenai aku, sekarang tenangkan pikiranmu, sekarang aku berada di dekatmu”. Ucap perempuan itu

Dituntunnya tangan lelaki itu memegang tangannya. Perempuan itu seakan-akan tak sanggup untuk menepis jari-jemari darinya. Wajah pucatnya sangat tampak seolah ia tak sanggup melepaskan jari-jemari itu di tangannya. Lelaki itu pun diam merasakan damai dalam batinnya. Padahal sungguh perempuan itu hanya bersandiwara saja, lalu ia pergi bersama kekasihnya yang lain ke rumah di balik sisi batu putih itu.

Kini ia telah sembuh dari sakitnya. RUTAN tempat ia berbaring dulu adalah balasan kepuasan batinnya. Perempuan itu telah hilang dan tiada. Dia mulai mencari kehidupan lain bersama siapa saja yang ingin bersamanya. Hanya satu kenangan yang ada, yaitu dua insan yang tak dapat bersama.

Oleh Ridwan Dinata
23 Maret 2016


Selasa, 24 November 2015

Serangan Malware di Borobudur

Unknown

Lanjutan cerpen CTD Monkasel
Karya Ridwan Dinata

Cinta yang tenggelam di lautan samudra kasih, kini kembali mengapung. Diskusi dan interogasi yang lama bersamamu dalam sepi hening. Di taman ini ku menuai air mata dan kebahagiaan. Lantaran kini cintaku selamat atas kejadian 10 November 1945. Kau ceritakan padaku segala sesuatu yang berhubungan dengan bolong-bolong kapal yang membuatnya tenggelam. Kau berikan bukti yang nyata kepadaku sebagai direkturmu. Nakhoda ku, berbahagialah engkau sebab engkau tak jadi ku PHK. Tertawalah engkau di atas kemerdekaan ini, dan tentunya aku juga akan demikian.

Kini, kita akan berangkat berlayar menuju Yogyakarta. Kita akan berlayar membawa cinta dalam hati. Kita akan berangkat dua pekan lagi. Desas-desus akan tiada penumpang yang tak ingin lagi berlayar bersama kita muncul begitu saja. Jangan hiraukan olehmu, karena kita akan berlayar dengan kapal yang berbeda. Kita akan menyewa kapal dengan bayaran mahal. Kita akan berangkat dengan banyak penumpang lainnya.

Sepekan berlalu, tiket habis dijual. Kabarnya, kapal akan berangkat ke tiga tujuan utama, yaitu pengajaran, sastra, dan linguistik. Aku tak tahu tujuan mana yang akan ku utamakan. Aku ingin semua tujuan itu ku capai dengan bahagia. Tiket hanya satu, aku tak tahu engkau yang di sana membeli tiket dengan tujuan yang mana. Aku ingin menuju ke pengajaran cinta supaya aku dapat memahami arti cinta yang sesungguhnya. Aku juga ingin bertuju pada sastra, sastralah yang membuatku jatuh cinta padamu. Aku juga ingin bertuju pada linguistik, supaya dapat merangkai kata-kata yang tepat dalam membuat wacana cinta padamu.

Oh kekasihku, ternyata aku dapat kabar gembira. Nakhoda kapal mengatakan kita akan berlayar bersama-sama ke tiga tujuan pengajaran, sastra, dan linguistik. Supaya aku tidak akan buta materi-materi cinta sejati, supaya aku tidak buta dengan syair-syair cinta abadi, dan supaya aku tidak kaku menggerakkan lisanku untuk berbicara kata-kata mesra padamu.

Kini kita telah tiba dalam tujuan yang nyata. Hanya karena berbeda dek, ku mencari ke mana-mana. Hatiku gelisah bila tak bertemu dengan mu. Ingin ku peluk erat tubuhmu bila ku menemukanmu.
“Sayang di mana kamu?”
“Aku sangat merindukanmu”

Ku pegang erat tanganmu di pelabuhan cinta ini. ku tak ingin melepasmu supaya kita tak tersesat lagi. Sungguh nyaman jiwa ini bersama-sama dengan mu di sini. Lihatlah, awan yang selalu melindungi kita, dan air sungai berirama mengiringi langkah kaki kita. Para pedagang di tempat ini cemburu memandangi kita. Alangkah bahagianya hidup ini seakan aku dalam mimpi indah yang nyata. Kita berjalan bersama menuju patung Budha. Kita membuat dokumentasi yang sempurna di sini, di tempat ini kita juga melakukan hal yang indah bersama.

Terik matahari siang tak terasa membakar raga ini. karena dirimu penyejuk hati dan jiwaku. Oh, lihatlah pasangan kekasih itu. Berfoto ria seperti kita. Tapi, lihatlah kita berada di deretan stupa yang sempurna. Entahlah yang ku rasa hanya keindahan semata. Tidak tahu arah lagi, yang ku tahu hanya arah masa depan cinta kita seperti matahari yang akan selalu tenggelam ke ufuk barat. Iya, di sinilah kita membuat dokumentasi yang sempurna, aku benci dengan mereka yang datang meminta untuk dipotret dirinya. Tak apalah, berbuat baik adalah hal yang wajar dalam hidupku. Aku ingin selalu bersamamu di sini dengan gembira berpose seperti Shiren Sunkar dan Teuku Wisnu, seperti Rama dan Shinta dalam kehidupan lalu.

Senyum di wajahmu membuat bibir ku ereksi. Aku ingin menciummu di hadapan orang tuamu. Semoga kebahagiaan ini bukan prolog dari drama semata. Ku berharap kau juga merasakan hal yang sama dengan ku, tanpa ada orang lain di antara kita. Mari kita kembali ke negeri semula. Kita rayakan kebahagiaan ini dengan makan malam hanya kita berdua. Oh kekasihku, betapa terkejutnya aku ketika mendapati orang lain di antara kita. Orang itu kini membenamkan malware dalam ponselmu. Malware itu menggerogoti tak hanya di ponselmu saja. Ku sadari malware itu juga menggerogoti hatimu sedangkan engkau hanya tersenyum biasa. Aku mulai curiga,
“mengapa terdapat malware dalam ponselmu yang terjaga keamanannya?”
“kau hanya diam saja” entah apa yang kamu pikirkan

Seperti layaknya detektif ku bertanya dengan teka-teki problematika kehidupan sebuah malware. Aku sangat takut malware tersebut memutuskan cinta kita. Aku takut engkau terjangkit malware yang berbahaya.

Oh, rupanya itu adalah jenis malware yang menenggelamkan cintaku di Monkasel dulunya. Betapa terkejutnya aku akan hal ini. Virus yang dikristalkan sebelumnya menyerang hati dan pikiranku kembali.
“dia adalah temanku, aku tak ada hubungan apa-apa dengannya”
“bohong, tiada hubungan sahabat ada ungkapan mesra dan ekspresi ciuman”
“hatiku bergejolak rasanya melihat bukti nyata ini, inginku buang ponselmu sebagai pemuas hasratku”

Tahukah engkau kekasihku, betapa sakitnya engkau berbagi cinta dengan dia. Oh kekasihku, di manakah hati kecilmu. Di mana cintamu yang dulu. Oh kekasihku nyatanya engkau memang menduakan ku. Kurang apakah aku, sehingga engkau menjadi racun dalam darahku. Mengapa engkau tak mengerti perasaanku. Semua yang ada akan kuberikan padamu, bahkan jiwa dan ragaku. Asalkan jangan pernah engkau menduakan cintaku.


Yogyakarta, 22 November 2015

Senin, 09 November 2015

Resolusi Cinta Cucok

Unknown
Pagi ini udara masih terasa segar, tanah terlihat basah sisa tersiram air hujan tadi malam. Aku termenung duduk manis di sebuah kursi kuno di taman samping rumahku. Mataku tertuju pada sepasang burung yang sedang beraduh kasih di salah satu dahan pohon Di depanku, jadi teringat sama cowokku. Rino adalah nama pacarku. Sudah setahun ini kami jadian. Iya sih dia tuh sayang  dan cinta banget sama aku. Tapi dibalik itu semua aku tidak percaya sedikit pun dengan keseriusan cintanya. Sampai setahun ini kita jadian dia belum pernah menyatakan langsung kalau dia mencintaiku, dari situlah aku meragukan cintanya. Aku mencintai dia bahkan sangat mencintainya. Awal kita jadian dia nembak aku lewat bantuan medsos. Aah tidak seromantis pasangan lain. Tapi ya gitu meskipun dia tidak romantis kayak cowok lain, dia selalu bisa buat aku nyaman berada disampingnya,  bisa dibilang dia tuh pemalu atau suka grogi kalau deket-deket sama cewek Dia tuh humoris banget sampai-sampai tiap ngedate selalu buat aku ketawa-ketawa terus denger cerita-ceritanya yang konyol dan buat geli perutku. Kadang aku ngerasa ngiri sama teman-teman cewekku yang baru jadian sama cowoknya, katanya sih awal jadian itu  kenangan terindah, di mana seorang cowok berani mengungkapkan perasaan cintanya di depan cewek yang disukainya, ada rasa malu, nervous, salting, bikin pipi merah lah, hati dag dig dug seketika, tapi sayang perasaan kayak gitu tidak pernah aku rasakan. Aku mengira cowokku tidak benar-benar cinta sama aku, dia tidak pernah serius dengan hubungan kita. Disela-sela aku lagi banyangin dia, ehh aku tidak sadar kalau dia sudah duduk disebelahku, panjang umur tuh anak.

”Sayang lagi ngelamunin apa sih??masak cowokmu duduk Disampingmu, kamu kaget tidak karuan kayak gitu, ada masalah, cerita saja sama aku sayang,” serunya sambil menjulurkan setangkai mawar putih yang baru dibelinya. 

”Aku lagi mikirin perkataannya bu Rusmawati tadi mengenai resolusi sastra, jika resolusi sastra itu penyelesaian dari sebuah konflik maka apakah ada resolusi dalam sebuah cinta?”dengan ragu-ragu aku menanyakan akan hal itu. ”Hmmb menurutku itu ada, sastra kan banyak mengambil dari kisah kehidupan manusia terutama kata cinta, tapi bedanya lebih ditekankan dan berhubungan langsung dengan hati manusia itu sendiri. Jika dalam sebuah karangan saja ada resolusinya maka dalam kehidupan juga tentunya ada.” Jawab Rino dengan penjelasan yang cukup panjang. Dengan suara yang tersipu aku bertanya pada Rino.”Rino, kamu tuh benar-benar sayang apa tidak sih sama aku? aku pengen kisah cintaku kayak kisah karangan cerpen mengalami penyelesaian dalam konflik keraguanku selama ini terhadap cintamu padaku” tiba-tiba aku punya keberanian bertanya soal itu lagi, mungkin ini bukan pertanyaan yang pertama kalinya tapi sudah ke 1000 kali selama setahun ini. 

”Hahaha, kamu tanya pertanyaan konyol itu lagi, masak kisah cinta manusia disamakan dengan cerita dalam cerpen gak lucu sayang, ini kehidupan asli bukan dunia imajinasi lagi, tidak lucu pertanyaanmu itu, kenapa sampai saat ini kamu belum bisa percaya kalau aku sayang dan cinta sama kamu, apa belum cukup selama ini bukti-bukti yang menunjukkan kalau aku benar-benar menyukai kamu, dulu kamu yang nyuruh aku untuk percaya dengan cintamu, tapi kenapa sampai saat ini tak sedikit pun kamu bisa mempercayai perasaan sayangku untuk kamu, aku kecewa dengan sikapmu. ”Ya, rasa keraguan inilah dan pertanyaanku inilah yang selalu buat aku berantem dengan cowokku. ”Ya Rino, jujur sampai saat ini aku masih belum bisa 100% percaya kalau kamu bener-bener sayang sama aku, kalau kamu benar-benar serius sayang sama aku, kenapa sampai saat ini kamu masih tidak berani bilang langsung di hadapan mataku kalau kamu mencintai aku, aku cuma pengen ngerasain kayak cewek-cewek yang lainnya, denger dengan telingaku langsung cowokku bilang kalau dia mencintai aku, tapi apa yang kudapat, kamu tidak pernah bilang kayak gitu sama aku sampai saat ini, setiap kali aku nyuruh kamu bilang kayak gitu kamu selalu bilang maaf aku belum bisa lakuin itu, kamu tak pernah pegang tanganku, tak pernah cium keningku, tak pernah belai rambutku, apalagi tak pernah meluk tubuhku, sekali pun itu tak pernah sampai setahun ini, apa itu yang dinamakan dengan cinta bukan Rino, kamu tidak benar-benar mencintaiku, jika kamu benar-benar mencintaiku,  aku pengen punya masalah seperti alur cerita dalam sastra yang mengalami resolusi yang pasti akan terjadi dan terselesaikan.”Suaraku terbata-bata disela-sela tangisanku. Meskipun dia melihat tangisanku dia tak pernah mengusap air mataku dan dia tak pernah memandangku sedikit pun malah saat itu juga dia pergi meninggalkan aku di kursi kuno duduk sendirian. ”Maaf sayang aku tidak bisa lakuin itu” kalimat terakhirnya yang kudengar sebelum langkahnya meninggalkan tempat itu.Bingung, kesal, heran, badmood, kecewa, sakit hati, semuanya menjadi satu bersembayang di hatiku.

Pagi-paginya aku baru bangun dari dunia mimpiku, tiba-tiba saat kulihat jam beker kecil berbentuk hati pemberian Rino sewaktu hari ultahku kemarin menunjukkan pukul 06:45 WIB. Seketika itu aku kelabakan, pagi ini hari Senin, dan aku harus   berangkat ke sekolah lebih pagi ada kegiatan upacara rutinan hari Senin, halah gimana ini, pusing, panik itulah yang kurasa saat itu, tanpa befikir panjang lagi langsung kumeloncat dari kasur menuju kamar mandi, membersihkan kotoran-kotoran bekas tidur tadi malam. Saat di sekolah mulai dari pagi sampai jam istirahat aku tak menemukan batang hidung Rino, panik dan perasaan khawatir menyelimuti batinku, kemana Rino, kenapa dia tak menemui aku sama sekali,  aku tidak melihatnya seharian ini, akhirnya aku putuskan untuk mendatangi  kelasnya Rino, ya dia satu sekolah denganku,  kakak kelas setahun di atas angkatanku. Tapi ya gitu, aku tetap tidak melihat Rino di kelas itu, bangkunya kosong  tak berhuni, kutanyakan Andre teman sekelas sekaligus teman dekatnya Rino, dia bilang Rino tidak masuk sekolah tanpa ada surat keterangan. Seketika itu rasanya jantungku berhenti berdetak, apa yang terjadi dengan Rino, kenapa dia tidak ngasih kabar ke aku.handphonenya off mulai kemarin.
 Sorenya kudatangi rumah Rino, dan nol besar,pintu rumahnya tertutup rapat, tak satu pun kutemui orang yang ada di rumah itu, kosong song, kayak rumah yang tidak dihuni. Sudah 3 hari ini Rino tidak ada kabarnya, aku tidak tau dia dan keluarganya pergi kemana. Tiba-tiba pas pulang sekolah Pak Khosim satpam sekolahku memanggil namaku dari kejauhan dan memberikan sepucuk amplop putih yang berisi selembar kertas.”Non Abel, ini surat dari Mas Rino buat Non,”seru Pak Khosim berbisik di telinga kananku. ”Mas Rino, di mana Rino Pak? aku pengen menemui dia,”dengan semangatnya aku pertanyaan tentang keberadaan pujaan hatiku itu,dan tak memedulikan surat di tanganku. ”Mas  Rino, sudah pergi Non, tadi pagi dia datang dan menitipkan surat ini kepada bapak”jelas Pak Khosim yang menghilangkan semangatku tadi. Sampai di rumah aku buka amplop putih itu dengan rasa penasaran dan kangen tingkat dewa aku baca tulisan Rino.

Dear Abel sayang,
Aku tidak tau mulai dari mana aku akan menulis surat ini, 3 hari yang lalu saat kutemui kamu di taman rumahmu, sebenarnya ada hal yang pengen aku katakan. Aku minta maaf, aku masih belum bisa bahagiain kamu, masih Belum bisa jaga kamu, masih belum bisa nuruti keinginan kamu, masih belum bisa menyakinkan hati kamu kalau aku sayang kamu, masih belum bisa ngungkapin langsung perasaan cinta aku di depan mata kamu, masih belum bisa mengang tangan kamu, masih belum bisa ngecup kening kamu, masih belum bisa belai rambut kamu, masih belum bisa mandang  wajah kamu, masih belum bisa meluk tubuh kamu dan ngasih kehangatan batinmu. Abel sayang, kamu tau sendiri kan sayang kalau aku tak seperti cowok yang lainnya, yang dengan gampangnya buat suasana romantis yang selalu buat hari-hari cewek bahagia, aku pemalu dan suka grogi kalau berhadapan dengan cewek. Maaf sayang, bukannya aku tidak sayang kamu tapi aku belum bisa lakuin itu semua, mungkin ini aneh tapi ini adalah prinsipku. Bagiku cinta itu tak perlu diumbar-umbarkan, dan tak perlu diungkapkan, cinta cuma perlu dirasakan kehangatan getaran-getarannya di hati. Tidak semua rasa cinta perlu dibuktikan lewat perbuatan maupun perkataan dan cinta tak perlu di kotori tapi di jaga kesuciannya, mungkin kamu mengira aku kuno tidak mengikuti perkembangan zaman, tidak bisa mencintai seorang wanita alah gaya barat. Tapi asal kamu tahu Abel sayang, aku lakuin itu semua, tak pernah menyentuh tangan kamu, tak pernah cium kening kamu, tak pernah belai rambut kamu, tak pernah memandang mata kamu, tak pernah menyentuh tubuh kamu, itu semua bukti cinta aku kepada kamu. Bukannya aku pengen lakuin itu semua, tapi aku menghormati cinta kamu, aku tidak ingin cinta kita adalah cinta hawa nafsu(cinta sesaat), melainkan aku ingin cinta kita cinta yang suci, yang penuh ketulusan, dan cinta yang diridhoi Allah. Asal kamu tahu sayang kalau aku tak mencintai kamu, mungkin hubungan ini tidak akan berjalan sejauh ini. Aku mencintai kamu itu semata-mata karena Allah. Jika kamu menginginkan penyelesaian dari konflik keraguanmu terhadapku maka aku akan beri waktu kamu untuk lebih bisa belajar akan hal resolusi, resolusi cerpen pasti ada dan mudah terselesaikan, karena dengan mudahnya di jalan alur cerita dibuat oleh pengarang melalui jalan daya khayal pengarang itu sendiri, tapi resolusi cinta itu Tuhan yang akan membantu menyelesaikankannya, maka dari itu untuk hari ini dan hari-hari berikutnya kamu tidah usah terlalu khawatir nyari-nyari aku kemana pun, bukannya aku menjauh dan meninggalkan kamu, aku pergi bukan untuk selamanya, aku pergi hanya ingin menata masa depan kita, suatu saat nanti aku akan kembali, aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mencintai kamu, tapi maaf aku masih belum bisa ngungkapin keseriusan perasaan cintaku didepan mata kamu, melainkan di hadapan orang tua kamu dan di hadapan Tuhan kita. Kamu akan selalu ada di hatiku. Aku mencintai kamu karena Allah. Resolusi itu akan selalu ada dan akan kamu alami dan rasa saat aku berjauhan denganmu untuk beebrapa saat ini, kamu akan sadar dengan sendirinya.

From : Rino Adi Prayoga

Dengan berlinangan air mata,aku menyesali perbuatanku yang telah meragukan keseriusan cinta Rino kepadaku. Saat itu juga aku percaya kalau dia benar-benar mencintai aku, dan saat itu juga resolusi cintaku ada, aku berubah menjadi wanita yang percaya akan keseriusan cinta saat itu pula aku berubah menjadi wanita yang lebih pantas untuk masa depannya, aku memutuskan mengubah penampilanku, yang awalnya pagi-pagi selalu mengenakan kaos tanpa lengan, bawahan celana seperempat, dan selalu memperlihatkan rambut indahku. Kini rambut itu sudah tertutup dengan jilbab indah, dan kulitku yang suka kupamer-pamerkan kini sudah berbalut dengan pakaian panjang. Dan kini aku menjelma menjadi wanita muslimah yang mempercayai kalau cinta itu suci, tulus tak perlu dibuktikan melalui perbuatan dan perkataan, tak perlu diumbar-umbarkan tapi perlu dijaga kesuciannya.


Umi Kulsum


Jumat, 06 November 2015

Stereotip Meduro

Unknown
Sepanjang acara reunian siang itu aku dijadikan bahan tertawaan. Penyebabnya hanya satu: karena aku kuliah di Madura. Meskipun beberapa dari temanku, baik yang bekerja di pabrik maupun kuliah di swasta, agaknya mereka lebih bangga daripada diriku, yang kuliah di PTN, tapi di Madura. Maka reunian SMK itu pun membuatku muak.

Muak terutama pada guruku sendiri: Samsul Hadi, S.Pd. Beliaulah yang memulai lelucon tidak lucu ini. Sejak acara dimulai pak Sam menyudutkanku dengan humor-humornya tentang Meduro, tentang stereotip kasar, peminta-minta, kumuh, dan berkulit hitam. Mendengar perkataannya teman-temanku kembali tertawa. Tapi aku hanya diam, kesal, tidak nyaman. Bahkan, semakin pak Sam menyudutkanku, teman-teman semakin tertarik. Mereka menertawakan kulitku yang lebih coklat daripada ketika di Jawa. Mereka juga mengejek logat Jawaku yang cenderung campur dialek Madura. Malahan, karena semakin tertarik, mereka bertanya padaku beberapa kata dalam bahasa Madura. Aku menyebutkan beberapa yang kumengerti. Lalu mereka semakin terbahak-bahak, bukan hanya tertawa, lebih kepada menertawakan.

Tapi semua itu tak lebih memalukan, ketimbang perkataan pak Sam selanjutnya, ketika bercerita pada teman-teman tentang karakteristik orang Madura. Saat itu aku berharap pak Sam menghentikan lelucon rasialismenya, lalu memperbaiki ucapannya.

Namun ternyata tidak! Bukannya tentang kebaikan, pak Sam malah menceritakan keburukan orang Madura. Beliau mengatakan masyarakat Madura cenderung tidak memiliki sopan santun, penuh kekerasan, sensitif, dan kasar. Menyimak itu teman-temanku konsentrasi penuh. Sementara dalam keadaan lain, hatiku panas mendengar semua kebohongan dari pak Sam, karena aku, orang Jawa yang berdomisili di Madura ini, tahu sendiri bagaimana kebaikan dan kearifan penduduk lokal.

Pernah, suatu sore, di Bangkalan, terjebak hujan lebat di tengah jalan. Seorang penduduk lokal tiba-tiba memanggilku. Aku tidak begitu paham maksudnya karena ia memakai bahasa daerah. Tapi dari gerak tangannya ia mengisyaratkan agar aku berteduh dalam rumahnya. Aku pun bergegas ke sana, lalu kami berbincang banyak hal. Dalam waktu singkat kami begitu akrab. Pernah, suatu siang, motorku kehabisan bensin, lalu seorang penduduk lokal bersedia menuangkan bensin ke motorku. Karenanya kuliahku tidak terlambat, dan aku berhutang budi pada orang berhati mulia itu. Pernah, suatu pagi, di awalsemester, kebingungan mencari tempat kost, tapi seorang dari Kamal menunjukkan arah ke perumahan Telang Indah, dan darinya, aku tahu tempat kost paling murah dengan kondisi sangat layak.

Mengingat semua itu, terkadang aku merasa sedih, menyadari banyak orang-orang luar, entah temanku, guruku, atau keluargaku, yang memiliki stereotip buruk tentang Madura. Memahami itu, aku ingin mengatakan suatu kebenaran. Sehingga, suatu siang dalam acara reuni SMK, aku berkata pada pak Sam dan teman-temanku, untuk menyadarkan mereka. “Mungkin karena keadaan geografis orang Madura berkulit lebih coklat, karena itu dapat dijelaskan secara ilmiah, betapa panasnya daerah pesisir. Tapi bukankah sebagian dari mereka berkulit kuning langsat? Atau mungkin orang Madura memang bersifat kasar, tapi bukankah tidak semuanya seperti itu?” Semuanya tertegun. Aku menceritakan pengalaman selama satu semester di Madura, tentang kebaikan penduduk lokal dan kearifannya, juga tentangtokoh-tokoh inspiratif di sekitar. Maka orang terdekat di kelas yang kusebut adalah Fatur, karena darinya aku belajar hakikat keberanian dan kebenaran. Dari Fatur pula aku belajar kebijaksanaan seorang pemimpin. Tidak lupa juga darinya aku belajar rendah hati dan memaknai sebuah konsistensi. Selain Fatur, orang kedua yang memotivasiku adalah kak Habibi. Aku tak begitu mengenalnya, pun tidak pernah bertemu dengannya. Aku hanya tahu kisahnya dari seluruh penghuni kost. Kak Habibi terkenal cerdas dalam bidang teknologi informasi. Ia seorang pekerja keras dan alim. Saban subuh mengaji di masjid, dan setiap Senin Kamis puasa sunah. Kak Habibi, yang kuketahui dari cerita, adalah seorang jarang tidur dan lebih banyak membaca buku. Kabar terbaru darinya adalah kini ia sedang melanjutkan S2 di Belanda.

Mengingat tokoh inspiratif yang satu ini, aku mengeluarkan sebuah foto untuk ku tunjukkan pada pak Sam. Di dalam foto itu terdapat kak Habibi dengan rektor Universitas Trunojoyo Madura—pak Arifin waktu itu—sedang meraih penghargaan robot internasional. Aku bercerita pada pak Sam, betapa aku mengagumi sosok pria hitam dan berambut keriting itu. Mungkin dari segi penampilan kak Habibi tak menarik, tapi lihatlah, betapa sederhana ia berdiri di samping petinggi universitas.

Pak Sam yang sekarang pendiam, tanpa sadar mengangguk keheranan. Tampak wajahnya kagum, takjub, perasaan haru mengaduk hatinya. Dari tatapannya, melihat foto itu, aku tahu perasaannya. Pak Sam menyadari kesalahan tentang stereotip Madura. Tentang kejelekan dan keburukan orang Madura. Tentang rendahnya Sumber Daya Manusia. Dan jelas, tercetak air mukanya, penyesalan telah melanda. Menyesal menertawakan orang Madura.

Maka, meski acara reunian SMK itu sederhana, banyak pengalaman yang kudapatkan dari semua. Meski awalnya aku merasa malu disudutkan, pun ditertawakan karena kuliah di Madura, aku yakin satu hal: pak Sam lebih malu daripada diriku, ketika beliau menyadari bahwa stereotip Madura, tentang kekerasan, perasaan sensitif, watak yang kasar, semuanya belum tentu benar, karena bagiku, sikap seseorang harus dilihat dari sudut pandang objektif: bagaimana engkau akan tumbuh dan berkembang, dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

gigih febri


Rabu, 07 Oktober 2015

Cahaya Islam Untukku

Unknown














Oleh Mutmainnah

Matahari mulai menunjukkan cahayanya. Aku masih bermalas-malasan untuk membuka
selimutku. Tak ada yang sempat membangunkanku jadi aku bisa semauku untuk bangun, ayah
dan ibuku sibuk dengan pekerjaannya, jadi aku diurus oleh pembantuku di rumah.
Hari minggu ini adalah jadwalku untuk pergi ke gereja, Aku Yesa Natalia, seorang gadis jutek
dan bawel. Meskipun demikian aku sangat taat beribadah, aku tak pernah absen untuk ke Gereja.
Perjalananku ke Gereja akhir-akhir ini tidak semulus seperti biasanya, itu karena aku mendengar
suara yang sangat merdu dari dalam Masjid di depan alun-alun kota. Aku berhenti sejenak, dan
mendengarkan suara indah itu, beberapa saat kemudian suara itu berhenti dan tiba-tiba ku lihat
seorang laki-laki keluar dari Masjid. Betapa terkejutnya aku “Oh my God, Malaikat” Bisikku.
Aku tercengang melihatnya, mulutku seakan tak bisa berkata-kata. Malaikat itu tak melihat
kearahku padahal aku ada di depannya, dia hanya menundukkan kepalanya, dan pergi dengan
sepeda ontelnya, aku terus saja melihatnya, tanpa ku sadari aku mengikutinya sampai entah
di mana aku berada, malaikat itu sudah menghilang dari pandanganku, dan saat itulah aku
tersadar "Waaduuhh, ada dimana gue?”. Cepat-cepat aku bergegas ke gereja, ku adukan semua
kejadian tadi pada Tuhanku “Ya Tuhan, aku tadi melihat malaikat, malaikat tanpa sayap, dia
ganteng banget Tuhan” Kataku di Gereja.
Hari Minggu selanjutnya niatku sudah berbeda, niatku tak lagi ke Gereja, Minggu kali ini aku
nongkrong di pintu gerbang Masjid, aku tak sendirian pergi kesana, aku ditemani teman karibku
sebut saja dia Zahra, Zahra adalah seorang muslimah, meskipun kita berbeda agama tapi kita
saling menghargai satu sama lain, “Yesa, ngapain kamu ngajak aku ke Masjid?” Tanyanya heran.
“Elloo belum tahu? ada malaikat di dalam Masjid itu” Jawabku. “Kamu mengigau ya?” Sahutnya
sambil mencubit pipiku. “AWWW, sakit tau, ya enggaklah aku enggak tidur keless, ello harus
lihat malaikat tanpa sayap itu, sebentar lagi dia keluar” Jawabku. Seberapa saat kemudian yang
ku sebut malaikat itupun keluar. Zahra berkata “Ooooo itu yang kamu maksud malaikat?” “Iya,
keren ya” Jawabku sambil tercengang melihatnya. “Itu mah tetanggaku Yes, dia baru pulang dari
pondokya sebulan yang lalu” Jelas Zahra. “Jadi kamu kenal? Kenalin gue donk! Please! Pintaku.
“Aku belum terlula kenal sih, tapi dia tetanggaku” Jawab Zahra.
Setelah aku tahu malaikat tanpa sayap itu tetangga dari Zahra aku selalu bermain ke rumah
Zahra. Malaikat tanpa sayap itu bermana yusuf, aku sempat bertanya pada Zahra kemarin
sebelum pulang sekolah. Aku duduk di teras depan rumah Zahra sambil melihat kearah rumah
Yusuf. Yang ditunggu-tunggupun tiba yusuf keluar dari rumahnya, aku berdiri dan menatapnya.
tiba-tiba Zahra datang dan bertanya “Yes, ngeliat apa?” “Malaikat Malaikat” Mulutku dan
pikiranku seakan tidak sinkron. “Yusuf?” kata Zahra dengan nada biasa saja “ Iya Yusuf" Kataku
masih tetap memandanginya “Sepertinya gue suka deh sama Yusuf, Ra” Lanjutku. “Tapi dia muslim
Yes, mustahil bagi dia menyukai orang dengan beda agama” Jelas Zahra. “Kalau begitu gue akan
pindah agama, kalau dia gak bisa pindah ke agama gue. Gue yang akan pindah keagama dia”
sahutku. “Kamu yakin?” Kata Zahra “Sangat yakin!” Jawabku penuh keyakinan. “Pindah agama
bukan hal yang main-main Yes” Kata Zahra “Aku tahu itu” Kataku.
Hari demi hari kulewati dengan belajar agama kepada Zahra, seperti mengaji, sholat, dan puasa.
Aku diam-diam belajar agama yang akan aku jalani tanpa sepengetahuan dari keluargaku, karena
jika mereka tahu pasti mereka akan marah besar, keluargaku sangat tidak suka dengan agama
Islam, menurut mereka Islam penuh dengan kekerasan, dan suka berantem tapi bagiku tidak
semenjak aku kenal dengan malaikatku itu Yusuf. Islam bagiku indah, damai, da memberikan
ketenanagan, aku lebih mengetahui arti kehidupan sesungguhnya, untuk apa aku hidup dan siapa
aku hidup. Setelah kupelajari dan memahami semuanya barulah aku mengajak Zahra untuk
menemui seorang kyai untuk memuallafkanku. Akupun resmi menjadi seorang muallaf, aku masih
sedikit kesusahan menjalani kewajibanku dan yang paling berat adalah kewajiaban puasa, huhhh
tanpa ice cream stroberi di siang hari. Tapi tidak, aku harus menjadi muslimah sejati.
Hari-hari selanjutnya aku mulai terbiasa menjalankan kewajibanku sebagai muslimah, ucapanku
berubah drastis dari ello-gue jadi aku-kamu, heemm manis bangetkan. Aku sering sekali
mengunjungi rumah Zahra selain ingin bertemu malaikatku itu aku juga belajar agama kepada
Zahra untuk memperdalam keyakinanku. Beberapa saat kemudian di rumah Yusuf kulihat
seperti ada keramaian dan membawa bingkisan ku kira Yusuf sedang berulang tahun, dan
ternyata seperti yang Zahra katakan mereka adalah calon besan dari keluarga Yusuf, mereka
adalah keluarga Fatimah, Fatimah adalah calon istri Yusuf, mereka berdua dijodohkan. Entah
kenapa setelah aku mendengar semua itu, mungkin hatiku sedikit terluka, tapi aku sadar Fatimah
lebih baik daripada aku, dia sholehah, dan pantas menjadi calon istri yusuf. Setelah mendengar
semua itu akupun pulang dan tanpa sadar aku membawa kitab suci Al-qur’an dengan pakaian
muslimah. Sesampainya di rumah ayahku kaget melihatku dengan pakaian muslimah dan
memabawa kitab suci Al-qur’an. Dan yang aku takutkan pun terjadi, ayahku marah besar ketika
beliau tahu aku pindah agama, ibuku hanya menangis dan aku hanya diam, menunduk tanpa
mengeluarkan kata-kata apapun, aku harus menghormati kedua orang tuaku bagaimanapun
mereka telah merawatku sejak kecil jadi aku tak melawan kemarahan ayahku, wajar kalau
mereka marah, tapi untungnya mereka tak sampai mengusirku dari rumah kerena aku anak satu-
satunya, jadi mana mungkin mereka mengusirku. Lambat laun orang tuaku mulai menerima
agama baruku, mereka mulai menghargai aku sebagai seorang muslimah, tak lupa aku selalu
mendoakan mereka agar cahaya yang telah aku dapat dan aku rasakan ini, didapat dan dirasakan
pula oleh kedua orang tuaku..
Cinta dari malaikatku tak sempat ku dapat, tapi aku telah mendapatkan cinta yang jauh lebih
indah, iya, cinta dari Sang Ilahi telah aku dapatkan. Allah sangat mencintaiku dengan mencintai
Yusuf sebagai perantara untuk mencintai-NYA. Cinta membawaku kepada cahaya islam. Cahaya
yang penuh ketenangan. Kuucapkan terima kasih kepada Yusuf yang telah membawa cintaku
menuju jalan yang benar, jalan cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.