Wahai! Kau yang berkerudung kelabu
Sedang mengecup-ngecup tetesan anggur
Tertawa-tawa pada bola mata
Lihatlah!
Makin selera lihat aku dahaga
Aku merongrong ditusuk gersang udara
Ludahku menguap dibawa bola pukul sebelas tak tersisa
Lalu aku pun terkibul
Dibolongi bedug pertamaku dengan sodokan anggur
Katanya iblis telah mati terkurung
Aku curiga sambil lamat-lamat mendekat malu-malu
Jangan-jangan iblis menjelma wanita berkerudung kelabu itu
Wahai!
Begitu banyak iblis lebih pandai
Pada
Zamannya polisi gampang dikibul
Wahai!
Di mana gerangan gadis berkerudung hijau yang mengajariku alif demi alif
Kemarin kulihat Iblis tersuruk-suruk menangkap siluet tubuhnya
Andai bedug tak bolong, tak aku menggelombang rindu alifnya
Bangkalan, 2015
(Oleh Anggun PAM)
Diantologikan oleh penerbit Rumah Kita. Event puisi Nasional bertema Ramadhan dan Idul Fitri.
0 comments:
Posting Komentar