Selasa, 25 Oktober 2016

BABAT BANTENGAN

Unknown
Oleh: Ratih Aulia Azhar


Sumber : Dokumen Pribadi
Dahulu kala di Sidoarjo bagian utara terdapat hutan perawan yang tak bernama. hutan ini begitu gelap karna banyak ditumbuhi pepohonan besar, semak-semak belukar serta hewan-hewan liar. Konon hutan ini dijadikan pelarian oleh rakyat Sidoarjo yang tidak sanggup menahan perlakuan biadap masa penjajahan Jepang. Banyak cerita mistis yang beredar pada masyarakat sekitar hutan ini.  Masyrakat mempercayai siapapun yang masuk ke hutan ini tidak akan selamat, hanya orang-orang yang mempunyai iman yang tinggi serta kekuatan gaib lah yang akan berhasil selamat dan menemukan jalan keluar dari hutan ini.
Hingga pada suatu ketika hutan ini tak sengaja di datangi dua orang kakek bersaudara mereka menggunakan sorban putih dan menungganggi kuda. Dua orang kakek tersebut adalah seorang musafir yang menghabiskan hidupnya untuk menyebar agama Islam dan menolong rakyat miskin di daerah-daerah yang meraka lalui. Kakek bersaudara ini juga tidak pernah memperkenalkan nama mereka kepada masyarakat. Namun, masyarakat menyebut kakek musafir ini dengan sebutan Kakek Kaji dan Kakek Ayup. Nama yang diberikan masyarakat juga mempunyai arti tersendiri di dalamnya. Kakek Kaji yang berarti tinggi agamanya, pandai mengaji sera berdoa. Kakek Ayup yang berarti meneduhkan karna sifat penolongnya. Kakek Ayub yang sedang mencari dedaunan untuk mereka jadikan ramuan obat-obatan tidak sengaja melihat se’ekor banteng sedang mencari makanan di luar hutan, kakek Ayub tertarik akan tubuh banteng yang besar dan hitam. Sehingga ia memutuskan mengajak kakek Kaji untuk membantu menangkap banteng tersebut. Kakek Ayub berfikir apabila ia berhasil menangkap banteng tersebut banteng itu akan mereka sembelih dan meraka jadikan makanan untuk di santap bersama masyarakat miskin. Namun ketika ia hendak menangkap dengan mengendap-endap di balik dedaunan yang rimbun banteng tersebut kaget dan lari kencang masuk ke dalam hutan. Melihat banteng buruannya lari, tanpa berpikir panjang segera dengan semangat kakek bersaudara mengambil kuda tumpangannya dan lari mengejar banteng tersebut. Beberapa saat kedua kakek tersebut berjuang sekuat tenaga untuk mengimbangi kecepatan lari banteng buruannya. Hingga kakek Ayup yang semula berada dekat dengan banteng buruannya lama-kelamaan memperlambat laju kudanya dan seketika berhenti. Kakek Kaji yang melihat saudaranya tiba-tiba berhenti berbalik memutar kudanya untuk menghampiri kakek kayup “engkau lelah saudara ku?” kakek ayup hanya mengangguk sembari memegangi dadanya, kakek Kaji menyambung lagi perkataannya “mari kita beristirahat terlebih dahulu, dadamu terlihat sesak”. Kakek Kaji tanpa menunggu perintah pertolongan dari kakek Ayup segera membantu kakek Ayup untuk turun dari kudanya dan menyandarkan tubuh kakek Ayup di bawah pohon yang rindang serta mengeluarkan air yang selalu ia sediakan dalam setiap perjalanannya. Kakek kaji yang juga meresa leleh menyandarkan tubuhnya di sebelah kakek Ayup. Rasa lelah yang dirasakan kakek Ayup dan kakek Kaji membuat dua kakek musafir ini tertidur lelap di bawah pohon.
Hari semakin malam suara binatang-binatang malam membuat kakek Ayup  terbangun, ia kaget karna melihat langit yang sudah gelap. Kakek Ayup segera membangunkan kakek Kaji “saudara tua ku, bangunlah. Hari sudah gelap!”. Kekek Kaji yang mendengar suara saudaranya segera bangun semabari memebenahi surbannya dan berkata “kita tidak akan dapat keluar dari hutan malam ini, akan sulit menelusuri jalan keluar saat gelap, tenanglah akan kucarikan kayu bakar untuk kita bermalam di hutan ini. Aku juga membawa sedikit sisa makanan tadi pagi”. Mendengar perkataan kakek Kaji, kakek Ayup sedikit lebih tenang ia juga ikut membantu kakek Kaji untuk mencari kayu bakar dan sedikit ubi. Malam yang panjang tersebut mereka habiskan dengan menyantap ubi bakar dan beberapa lauk yang dibawa kakek Kaji sisa makanan mereka pagi tadi. Tak lupa setelah mereka menyantap makanan tersebut bersama, kakek Kaji dan kakek ayup membaca ayat-ayat suci Al’quran dan beberapa doa pengantar tidur.
Malam yang gelap berganti pagi yang terang, kakek Ayup dan kakek Kaji segera bergegas untuk melanjutkan perjalan dengan menelusuri hutan mencari jalan keluar. Namun tidak jauh dari tempat mereka menginap semalam, kakek Kaji dan Ayup dikejutkan dengan seekor banteng hitam besar yang mereka buru kemarin. Niat untuk menyembelih banteng tersebut seketika berganti dengan rasa iba karna melihat kondisi banteng yang sekarat dan membutuhkan pertolongan. Sekitar tubuh banteng terdapat luka sayat dan kakinya pun patah. Tanpa berpikir panjang kedua kakek tersebut segera menolong dan membagi tugas satu sama lain. Kekek Kaji bertugas untuk mencari air di sungai yang ia lalui tadi, sedangkan kakek Ayub bertugas untuk mencari beberapa daun ramuan guna membalut luka si banteng. Segera dari mengambil air, kakek Kaji perlahan meminumkan air yang telah ia peroleh dan kakek Ayup yang telah usai meracik daun ramuan obat,  membubuhkan ke dalam tubuh banteng yang terluka. Rasa pedih yang timbul dari balutan ramuan daun membuat tubuh banteng bergetar dan tak sengaja menendang kakek Ayup yang berada tepat di bawah kaki banteng. Kakek Ayup terpental hingga berepa jarak dari tubuh banteng. Seakan mengerti kondiri banteng kakek Ayup tidak marah dengan sabar ia memerintahkan kakek Kaji yang berada di deket kepala banteng untuk mendekati telinga banteng dan membisikkan doa. Mendengar doa yang dibacan kakek Kaji banteng hitam yang kuat tersebut tertidur. Kakek Ayup yang melihat banteng tersebut tertidur mengajak kakek Kaji untuk menjauh dan beristirahat sejenak di dekat pohon yang ada di depan tubuh banteng. Sembari beristirahat mereka menatap tubuh banteng, kedua kakek bersaudara ini makin merasa iba bila harus meninggalkan banteng dalam keadaan seperti ini. Akhirnya kakek Kaji dan kakek Ayup memutuskan untuk menetap sejenak di hutan hingga banteng yang mereka rawat kembali sehat dan gagah seperti saat pertama mereka melihat banteng hitam tersebut.
Hari demi hari kakek Kaji dan kakek Ayup lewati dengan merawat banteng. Makan yang mereka makan, mereka dapatkan dari berburu hewan liar di hutan serta beberapa dedaunan untuk dijadikan pendamping lauk buruannya. Hanya saja kedua kekek bersaudra ini merasa kesusahan bila memasuki musim hujan karna mereka tidak punya tempat untuk berteduh. Hingga pada suatu ketika kakek Ayup sakit akibat sering terkena hujan dan musim yang berubah-ubah. Melihat saudara yang ia kasihi sakit, kakek Kaji meresa ia harus mengambil tindakan besar untuk menebang beberapa pohon dan mencari beberapa kayu untuk di jadikan gubuk berteduh. Kakek Kaji dengan sabar dan ikhlas merawat sembari berjuang membangun gubuk untuk tempat tinggal mereka berdua. Berkat ke ikhlasan kakek kakek Kaji, kakek Ayup pun sembuh. Kekek Ayup juga memberi saran kepada kakek Kaji bahwa mereka tidak mungkin memakan sayur serta hewan buruan setiap hari. Mereka harus membuka sedikit lahan guna ditanami beberapa tumbuhan seperti padi, ubi dan jagung untuk menyambung kehidupan di dalam hutan. Kakek Kaji yang mendengar saran dari saudaranya berpikir bahwa benar mereka tidak mungkin menghabiskan hari-hari di hutan hanya dengan bergantung pada buruan dan tumbuhan disekitar hutan. Lagi pula banteng yang mereka rawat masih menunjukan tanda bahwa membutuhkan waktu lama untuk pulih dari luka yang banteng derita. Kakek Kaji pun menyetujui saran dari kakek Ayup. Dua orang kakek bersaudara tersebut kemudian bersama-sama menebang pepohonan dan rerumputan, bahu membahu membangun gubuk dan membuka lahan persawahan untuk menyebar bibit ubi dan padi yang dulu mereka dapatkan dari warga sebagai tanda terima kasih karna telah menolong menyembuhkan beberapa penyakit.
Bulan demi bulan kakek Kaji dan kakek Ayup lewati dengan berkebun, tumbuhan dan persawahan yang mereka jaga juga memperlihatkan hasil panen yang melimpah.


Sumber : Dokumen Pribadi
 
Saat musim hujan tiba mereka tidak harus merasa kesusahan lagi karena gubuk yang mereka bangun dengan susah payah telah berdiri dengan kokoh dan layak untuk tempat berlindung yang nyaman. Banteng yang kakek Kaji dan kakek Ayup rawatpun mulai membaik. Bahkan setelah banteng yang mereka tolong ini dapat berdiri, banteng tersebut seakan mengerti rasa berterima kasih. Banteng hitam ini tidak meninggalkan kedua kakek bersaudara, ia selalu menjaga gubuk ketika kakek Ayup dan kakek Kaji tertidur. Di tengah-tengah kebagiaan akan hasil bumi yang mereka dapatkan kedua kakek bersaudara ini berfikir bagaimana bila mereka memindahkan rakyat miskin untuk tinggal di dalam hutan ini bersama mereka, tetapi sebelum warga miskin memindahkan kluarganya para kepala kluarga harus bersama- sama membantu kakek Kaji dan kakek Ayup untuk semakin memperluas membuka lahan hutan dan lahan persawahan.  Kakek Ayup dan kakek Kaji mulai menyebarkan berita secara berantai kepada penduduk sekitar hutan. Kedua kakek bersaudara ini juga datang ke pasar-pasar, ke masjid-masjid, dan juga tidak segan bertamu ke gubuk-gubuk warga miskin untuk menolong merubah nasip mereka. Mulanya banyak warga yang menolak, dan menganggap kakek bersaudara ini telah gila, karna tidak mungkin hutan yang selama ini diberitakan angker dan tak banyak orang yang selamat setelah memasuki hutan ternyata menyimpan banyak kesuburan lahan. Bahkan pada suatu malam warga yang dipimpin salah seorang kemuka agama di perkampungan tersebut datang ke masjid tempat kakek Kaji dan Kakek ayup menginap. Mereka meneriaki kakek ini degan sebutan “Pengikut iblis”  dan menyeret kakek bersaudara ini untuk keluar dari perkampungan mereka. Salah seorang pekerja di masjid yang sedang membersikan kamar mandi, kaget melihat perlakuan warga seperti itu ia segera berlari keluar dari kamar mandi untuk menolong kakek Ayup dan kakek Kaji “apa yang kalian lakukan? apa kalian tidak ingat siapa beliau, apa kalian tidak ingat siapa yang meneyembuhkan sadara kalian dari sakit? apa kalian tidak tau bagaimana cara memebalas budi sesama manusia!”. Seakan tidak terima di katakan tidak tau terima kasih, seorang warga yang kesal menjawab “tidak usah berkotbah di depan kami! kakek yang kau tolong itu adalah pengikut iblis! ia telah bersekutu bersama jin dan hanya menjadikan kami tumbal dengan memanfaatkan kemiskinan kami!”. Sembari memegangi dada kakek Kaji dengan sabar menjawab “demi agama ku, aku dan saudara ku tidak pernah bersekutu dengan iblis, kami hanya ingin membantu kalian untuk keluar dari kemiskinan, lahan hutan itu menyimpan banyak kesuburan, anak cucu kalian akan sejahtera bila tinggal di sana”. “Bohong!. Semua warga berteriak “kau hanya mengada-ada untuk membuat kami percaya dan setelah kami percaya kami akan kau serahkan pada iblis sembaan mu!!”. Menderngar hinaan warga membuat penjaga yang anaknya pernah di sembukan oleh kedua bersaudara ini merasa kasihan akan nasip kakek. Ia tau bahwa semua tuduhan warga kepada kakek salah, karna tidak mungkin kakek yang baik budi serta selalu menjaga imannya berani bersekutu dengan iblis. Dengan rasa iba, penjaga ini berkata “baiklah aku yang akan membuktikan sendiri perkataan kalian, aku akan ikut bersama kakek Kaji dan kakek Ayup esok, jika aku tidak kembali ke desa ini maka kalian boleh menganiaya bahkan memebunuh mereka!”. Mendengar perkataan pekerja masjid itu, semua warga bubar. Kakek Kaji dan kakek Ayup sangat berterima kasih pada pekerja masjid tersebut. Kedua kakek bersaudara ini bahkan mengatakan kepadanya bahwa “kau beserta anak istrimu tak usa membangun rumah, tinggallah bersama kami di gubuk kami, kelolah dan jaga hasil bumi yang selama ini aku dan saudara ku jaga”. Penjaga tersebut sangat senang dan terharu, ia memeluk kakek Ayup dan kakek Kaji dengan erat sebagai rasa trima kasih.
Tahun demi tahun berganti, apa yang di tudukan warga kepada kakek Kaji dan kakek Ayup tidak terbukti, penjaga masjid kembali ke kampung dengan membawa banyak hasil bumi. Melihat penjaga tersebut pulang dengan selamat banyak warga yang berbondong-bondong datang ke hutan untuk meninta izin tinggal bersama kakek Ayup dan kakek Kaji. Karna baik budi kedua kakek bersaudara tersebut mereka mengijinkan setiap warga yang datang dan meminta lahannya untuk mereka tinggalli. Kakek Kaji dan kakek Ayup berpesan kepada setiap warga yang ingin tinggal di lahannya, bahwa mereka harus hidup rukun, mengelolah dan menjaga lahan persawahan dan tak lupa bergantian memberi makan banteng peliharaan kakek Ayup dan kakek Kaji. Semakin banyak warga yang datang membuat hutan tersebut seketika menajadi perkampungan. Kakek Kaji dan kakek Ayup merasa senang di umur mereka yang sudah tua mereka berhasil untuk menyelamatkan para warga dari kemiskinan. Tak lama setelah rasa kebahagian tersebut kakek Kaji berpulang terlebih dahulu meninggalkan kakek Ayup. Jenazah kakek kaji dimakamkan tepat di belakang gubuk mereka. Kakek Ayup sangat sedih, semenjak kepergian kakek kaji ia merasa sangat kehilangan dan tidak pernah keluar dari gubuknya. Warga sekitar satu-persatu bergantian untuk mengirim makanan kepada kakek Ayup. Banteng kesayangan kakek Ayup dan kakek Kaji juga tidak terlihat lincah seperti biasanya saat kakek Kaji masih ada. Banteng tersebut hanya duduk dan makan menandakan bahwa ia juga ikut merasakan kesedihan kakek Ayup. Hingga pada suatu ketika setelah sholat subuh seorang warga yang mengantarkan makanan kepada kakek Ayup menemukan kakek Ayup telah tiada dalam keadaan tertidur, kemudian warga menguburkan jenazah kakek Ayup tepat di sebelah liang kubur kakek Kaji. Semua warga yang menyaksikan penguburan tersebut meresa sedih. Setiap malam di dekat makan kakek Ayup dan kakek Kaji dipenuhi warga yang membacakan ayat suci Al’quran. Bahkan salah seorang warga juga melihat banteng kesangan kakek Ayup dan kakek Kaji menangis bila mendengar lantunan doa dari para warga. Lantunan doa ini di bacakan warga hingga tujuh hari tujuh malam berturut turut. Pada malam ke tiga banteng kesayangan kakek Ayup dan kakek Kaji mati. Warga menguburkan banteng tersebut bersebelahan dengan makam ke dua kakek bersaudara ini. Setelah acara doa malam ini selesai para pemuka agama yang dulu pernah menjadi murid kakek Kaji dan kakek Ayup sepakat untuk membongkar gubuk kakek Kaji dan kakek Ayup untuk mereka jadikan punden tempat warga yang hendak mengirim doa kepada kedua kakek bersaudara tersebut.


Sumber : Dokumen Pribadi

Tradisi kirim doa ini juga tidak berhenti sampai acara sedekah bumi desa atau kirim doa di bulan-bulan ruah saja, bahkan warga mempercayai bahwa setiap mereka mendapat rezeki, bahkan hendak mengadakan syukuran atau menikahkan anak mereka, mereka tidak boleh lupa menyekar makam kakek Kaji dan kakek Ayup sebagai bentuk rasa trimakasih.
Tradisi ini dijaga sangat lama oleh penduduk perkampuan bahkan dilaksanakan secara turun-temurun. Pada zaman G30SPKI tahun 1965 punden dan kuburan tempat kakek Kaji dan kakek Ayup di rusak dan di bakar. Para pejuang G30SPKI merasa bahwa perbuatan warga adalah bagian dari perbuatan syirik karena menyembah dan berdoa pada makam. Semua warga yang menyaksikan pembakaran gubuk tersebut menangis. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya berdoa agar kakek Kaji dan kekek Ayup tidak marah pada penduduk desa yang telah membiarkan makam mereka di hancurkan. Setelah peristiwa tersebut warga tidak lagi datang untuk berdoa, semua tradisi itu dihilangkan. Namun semenjak tradisi itu di hilangkan bencana yang datang kedesa mereka semakin hari semakin besar. Desa yang selama ini para warga tinggali mulai mendapat bencana. Lahan persawahan juga perkebunan yang subur menjadi tandus, banyak petani yang gagal panen dan merugi. Anak-anak para warga juga sering di rasuki roh halus bahkan banyak warga yang meninggal akibat penyakit aneh. Banyak warga yang menduga ini adalah bentuk kemarahan kakek Ayup dan kakek Kaji, mereka tidak boleh membiarkan bencana ini terus berlarut-larut mereka harus datang ke pemakaman kakek Kaji dan kakek Ayup untuk meminta maaf dan menggelar doa bersama. Para warga dan para pemuka agama di desa berbodong- bondong datang ke pemakam kakek bersaudara ini tetapi mereka terkejut karna di dekat sisa puing pembakaran makam kakek Ayup dan kakek Kaji di tumbuhi pohon Beringin yang rindang.


Sumber: Dokumen Pribadi
 


Warga mempercayai bahwa tempat tumbuhnya pohon Beringin yang rindang tersebut  adalah makam banteng kesayangan kakek Ayup dan kakek Kaji yang menjaga makam tersebut agar tetap aman dan teduh. Pohon beringin yang tumbuh di atas makam banteng tersebut adalah bentuk rasa trimakasih banteng karena kakek Ayup dan kakek Kaji pernah menongnya dari sekarat. Setelah acara doa bersama warga membuat suatu kesepakatan bahwa mereka harus membangun punden itu kembali dan tidak boleh meninggalkan tradisi doa bersama sebagai bentuk rasa trimakasih kepada kakek Kaji dan kakek Ayup. Benar setelah berdirinya punden, sawah yang dulu tandus kini subur kembali dan menghasilkan hasil bumi yang sangat melimpah, semakin hari warga yang menderita penyakit aneh lama-kelamaan sembuh dengan sendirinya. Dan perkampungan yang semula belum memiliki nama tersebut diberi nama oleh para warga dengan nama Bantengan seperti nama hewan peliharaan kakek Kaji dan kekek Ayup yang tidak pernah lupa berterimakasih kepada orang yang menolongnya.


Sumber : Dokumen Pribadi
 


Dengan pemberian nama Bantengan tersebut pada desanya, warga mempercayai desa mereka akan selalu dijaga dari bencana oleh banteng kesayangan kakek Ayup dan kakek Kaji sama seperti ketika banteng tersebut berubah menjadi pohon beringin untuk melindungi makam orang yang ia sayangi. Tradisi berdoa di punden dekat makam kakek Ayup dan kakek Kaji sebagai bentuk rasa trimakasih juga tidak pernah di hilangkan kembali oleh warga dan berlangsung hingga sekarang.


Sumber: Dokumen Pribadi



GLOSARIUM

Ø  Punden        : Tempat melangsungkan upacara adat.
Ø  Bulan Ruah : Bulan besar dalam hitungan jawa biasanya di gunakan untuk hari
                      dimana pesta panen di adakan.
Ø  Menyekar    : Upacara tabur bunga di makam orang yang telah meninggal.
 








Babat Desa Sawo Beserta Kisah Misteri Pesarean Eyang Sabdo disertai Tradisi yang Berkembang di Dalamnya

Unknown
Oleh: Rizky Fajrin N.

 
Sumber: Dokumen Pribadi
 
Gambar 1. Gerbang Utama Menuju Pesarean Mbah Sabdo
 
 





Pada suatu hari berabad-abad tahun silam, konon katanya terdapat sebuah tempat luas dan rimbun yang ditumbuhi oleh pepohonan buah sawo namun tidak berpenghuni dan belum pernah dijamah oleh tangan manusia, tempat tersebut kondisinya dapat dikatakan sangat memprihatinkan, kumuh, mirip seperti hutan, dan bahkan dari kejauhan tampak begitu menyeramkan, tidak hanya sampai disitu konon dahulu  banyak suara hewan yang terdengar begitu jelas oleh telinga. Menurut juru kunci dari desa yang bernama mbah Marwan, dahulu ada seorang laki-laki parubaya yang memiliki kekuatan mistis sedang menyusuri jalan setapak dan akhirnya sampai melewati tempat rimbun yang sekilas mirip hutan tersebut, kemudian lelaki parubaya tersebut entah mengapa dapat muncul inisiatif untuk membuka, membersihkan, dan berkeinginan untuk menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggal, inilah yang masih menjadi misteri khalayak mengapa beliau memiliki niat untuk membersihkan hutan pohon sawo, dan ternyata untuk membersihkan tempat tersebut untuk dijadikan sebagai tempat tinggal membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan ada yang menyebutkan sampai betahun-tahun lamanya. Dalam masyarakat Jawa, membuka suatu tempat yang rimbun, membersihkan, dan berkeinginan untung bertempat tinggal disebut dengan istilah “Babad Desa”.
Setelah tempat tersebut dibersihkan oleh laki-laki parubaya yang biasa dipanggil Mbah Sabdo terdapat beberapa masyarakat yang mulai berdatangan dan membantu membersihkan semua lahan yang masih tertutupi oleh pepohonan Sawo untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, meskipun masih sedikit orang yang bermukim di desa tersebut, tetaplah selama berjalannya waktu dan zaman mulai ada perkembangan, mulai dari pertambahan penduduk desa sampai para pendatangg baik dari luar kota maupun luar propinsi mulai berdatangan. Mereka mengaku mengetahui adanya lokasi desa baru ini dari penyebaran informasi yang disampaikan kepada para tetangga desa lain, sampai memberi kabar pada para sanak saudara yang dekat maupun sedang dalam jarak jauh untuk memberitahukan bahwa terdapat desa baru yang mereka tempati sebagai tempat beristirahat dan berteduh dari panasnya matahari maupun dinginnya angin malam.
Setelah terdapat kesepakatan antar penduduk yang mendiami tempat yang awalnya semacam hutan yang rimbun tersebut untuk menjadikan sebagai suatu Desa, Mbah Sabdo sebagai orang yang pertama membuka tempat tersebut memberikan nama “Desa Sawo”, alasan dari Mbah Sabdo untu memberikan nama desa sawo adalah dikarenakan pada awalmula mbah sabdo melakukan Babad Desa mayoritas terdapat pepohonan sawo yang ada pada tempat rimbun tersebut, sehingga Mbah Sabdo memberikan nama desa tersebut adalah desa Sawo yang mengingatkan beliau terhadap peristiwa penemuan desa tersebut, tetapi keputusan tersebut tidak lupa juga dengan  meminta persetujuan penduduk yang membantu ataupun yang bermukim di desa tersebut.
Waktu terus berganti dan mbah Sabdo akhirnya wafat. Beliau dimakamkan di makam daerah desa Sawo sebelah utara jauh dari makam-makan para penduduk lainnya. Meskipun mbah Sabdo telah wafat masih banyak orang yang mempercayai kekuatan mistisnya, sehingga banyak para warga yang mendatangi makam untuk sekedar berdoa ataupun mengambil air sumur yang terdapat di samping kanan makam beliau. Karena banyak penduduk yang mempercayai keyakinan tersebut, akhirnya juru kunci maupun warga sekitar memutuskan untuk menjadikan makam mbah Sabdo sebagai makam yang keramat atau makam yang disucikan

Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 2. Makam Keramat Mbah Sabdo





Waktu terus berlalu hingga tepat peringatan satu tahun meninggalnya mbah Sabdo yang konon katanya bertepatan dengan tanggal 11 Agustus tetapi tahun dari kejadian tersebut masih belum ada yang mengetahui, juru kuncinyapun tidak ingat akan tahun yang pasti kejadian tersebut terjadi. Kejadian aneh tersebut adalah adanya musibah yang amat dahsyat terjadi di desa Sawo, pada saat itu terjadi hujan badai yang sangat lebat sehingga mengakibatkan hampir semua rumah warga rusak, dan lebih parah lagi kejadian tersebut juga menelan banyak korban jiwa, yaitu penduduk sekitar yang bermukim di desa Sawo. Peristiwa hujan badai tersebut baru pertama kali terjadi dalam sejarah menerpa desa selama desa Sawo didirikan, tetapi angan-angan penduduk desa belum jauh berpikir bahwa musibah tersebut tepat pada peringatan meninggalnya mbah sabdo, yang masyarakat pikirkan hanyalah sebatas cobaan yang diberikan sang pencipta kepada umatnya sebagai ujian hidup. Namun, kejadian selanjutnya juga terjadi tepat pada peringatan kedua wafatnya mbah sabdo, kali ini bukan hujan badai seperti yang pernah terjadi sebelumnya, tetapi giliran angin ribut atau lebih biasa dikenal dengan nama puting beliung mampir dan menghampiri desa Sawo yang akibat dari puting beliung tersebut banyak penduduk desa yang hilang terbawa angin, ada juga rumah warga yang kondisinya rata dengan tanah, ada juga yang menderita luka-luka yang cukup parah dengan bercucurn darah disekujur badannya.
Akhirnya setelah direnungkan oleh penduduk desa, mereka kemudian mempunyai pikiran bahwa kejadian demi kejadian yang terjadi di desa bukanlah hanya sebatas kebetulan atau cobaan dari Allah semata, melainkan seperti adanya kutukan yang terjadi sepeninggal mbah Sabdo, simpulan tersebut bukan hanya sebatas karangan dari warga atau hanya omong kosong tanpa adanya dasar, tetapi mereka juga mempunyai bukti bahwa dua kejadian yang amat sangat parah ini selalu terjadi tepat pada tanggal 11 Agustus yang bertepatan dengan haul wafatnya mbah Sabdo, karena sebelum mbah sabdo menghembuskan nafas terakhirnya keadaan desa sangatlah tentram, dan tidak pernah ada musibah atau bencana yang melanda desa Sawo baik itu hujan badai ataupun puting beliung yang seperti terjadi sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, terdapat pembicaraan antar warga untuk menjawab segala pertanyaan mengapa setiap peringatan tanggal 11 Agustus atau tepat pada hari peringatan wafatnya mbah Sabdo selalu terjadi kejadian aneh yang sangat merugikan warga sekitar baik secara materi ataupun yang lain, lebih-lebih banyak keluarga yang kehilangan nyawa keluargannya akibat kejadian tersebut. Tiba-tiba pada pertengahan pembicaraan munculah seseorang yang dianggap paling mengerti tentang asal usul desa Sawo dan pendiri desa yaitu mbah Sabdo yang biasa di panggil sebagai juru kunci oleh masyarakat sekitar memberikan sebuah pernyataan yang mengejutkan. Berdasarkan keterangan juru kunci, mbah Sabdo pernah memberikan wasiat bahwa desa sawo ini membutuhkan sesajen setiap tahunnya, dan apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan contohnya seperti kejadian berturut-turut yang terjadi selama dua tahun berturut-turut di desa, dan musibah tersebut akan terjadi ketika pada hari peringatan wafatnya mbah Sabdo tidak melakukan wasiat sesuai yang telah disampaikan beliau kepada juru kunci.
Menjelang satu bulan peringatan wafatnya mbah Sabdo yang ketiga, penduduk desa menjadi sangat ketakutan, suasana yang terjadi di lingkungan desa juga terlihat sangat mencekam seolah-olah akan terjadi musibah besar selanjutnya menyusul musibah-musibah yang terjadi dua tahun berturut-turut. Demi keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan penduduk desa Sawo, juru kunci keramatpun menganjurkan untuk diadakannya nyadran atau menyiapkan sesajen yang telah diwasiatkan mbah Sabdo kepadanya, penduduk desa berpikir tidak ada salahnya mencoba melakukan ritual tersebut siapa tahu dengan menjalankan ritual sesajen dapat menghindarkan desa dari segala bahaya, musibah, dan petaka. Pemikiran tersebut muncul karena mbah Sabdo dulunya juga terkenal memiliki kekuatan mistis.
Sesajen yang digunakan dalam ritual nyadran juga tidak main-main, melainkan harus mengorbankan sapi yang ukuran kepalanya harus super besar. Konon pernah dicoba mengorbankan sapi yang berukuran kecil, namun setelah sapi selesai dikorbankan awan menjadi gelap yang berwarna abu-abu kehitaman dan diikuti dengan angin yang lama kelamaan semakin kencang, namun anehnya angin dan awan yang berwarna abu kehitam-hitaman hanya menyelimuti sekitar area penyembelihan hewan sapi, dan tempat tersebut tepat berada di sebelah kiri makam mbah Sabdo, wilayah desa Sawo yang lainnya keadannya normal, tidak ada awan hitam ataupun angin yang berhembus kencang. Pendapat warga penduduk desapun bermunculan, dan rata-rata mereka menyebutkan bahwa kejadian tersebut dikarenakan hewan sapi yang mereka gunakan sebagai sesajen berukuran kecil, yang berarti bahwa masyarakat desa mempunyai sifat yang pelit dan kikir untuk bershodaqoh, padahal daging dari sembelihan sapi juga akan dibagikan kembali kepada penduduk desa, hanya saja hati dari hewan sapi saja yang akan dibuang dimasukkan ke dalam sumur yang tempatnya tepat berada di samping kiri makam mbah Sabdo.
Setahun sudah berlalu, peringatan tanggal 11 Agustus akan segera dilaksanakan kembali oleh penduduk desa, berbeda dengan haul mbah sabdo yang ketiga, haul yang keempat ini dilaksanakan secara besar-besaran. Sapi yang digunakanpun berukuran sangat besar, dengan harapan tidak ada musibah yang mendekati desa mereka kembali. Tidak hanya sampai disitu, musik tradisional jawa juga turut diadakan pada nyadran  haul tahun keempat ini, penduduk desa turut serta mengundang tayuban sebagai pemenuhan salah satu syarat dari wasiat yang telah disampaikan oleh mbah sabdo melalui mbah Marwan yang sekarang sebagai juru kunci makam. Ritual tersebut yang terdiri dari penyembelihan sapi berukuran besar sebagai sesajen, musik keroncongan jawa sebagai pengiring, beserta tayuban sebagai pemenuhan persyaratan. Ritual tersebut dilakukan selama 7 hari 7 malam, karena angka 7 dianggap sebagai angka yang sakral oleh sesepuh dan masyarakat desa.
Sejak saat itu kejadian-kejadian aneh yang dialami penduduk desa sudah tidak pernah terjadi lagi, masyarakat sekitar memiliki kepercayaan bahwa sesajen yang dipersembahkan kepada penunggu desa lewat perantara mbah Sabdo sudah diterima, sehingga desa Sawo kembali menjadi desa yang tentram dan jauh dari musibah seperti sediakala. Waktu terus berlalu seiring dengan perkembangan zaman, tahun demi tahun telah berganti, setiap haul mbah Sabdo tradisi nyadran masih terus dilakukan hingga pada 5 tahun belakangan ini sejak tahun 2010 ritual-ritual yang dilaksanakan sudah berbeda caranya, jika pada zaman dahulu cara untuk menghormati pendiri desa dengan memberikan sesajen yang berupa kepala sapi yang berukuran besar lengkap dengan musik keroncong beserta tayuban, ritual tersebut sudah berbeda nama dengan sekarang, penduduk desa sering menyebutnya sebagai sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada masyarakat sawo, tetapi walaupun berbeda cara yang dilakukan oleh penduduk zaman dahulu dengan zaman sekarang  ritual tersebut tetap memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghormati pendiri desa sekaligus sebagai ucapan rasa syukur para penduduk desa yang dijauhkan dari bencana dan marabahaya.
Pada tradisi sedekah bumi yang sekarang ini mayoritas penduduk desa memberikan sebagian hasil panennya untuk dijadikan sebagai sesajen, tetapi nantinya hasil dari pengumpulan sedekah bumi yang diberikan oleh masyarakat sekitar juga akan dibagikan kembali kepada penduduk desa. Biasanya juga ditambahi dengan tumpeng, dan musik-musik yang bernuansa religi. Jadi, kebiasaan atau tradisi yang diyakini penduduk desa yang dahulu sudah diganti dengan hal yang bersifat keagamaan yaitu dengan mengaji atau khataman di area makam, tahlil, maupun istighosah, dan tradisi untuk memperingati 11 Agustus tersebut masih tetap berlangsung sampai dengan sekarang, tetapi dengan cara yang berbeda yaitu mengangkat unsur keagamaan.


 Glosarium
Pesarean: sebutan untuk makam atau kubuuran dalam bahasa Jawa.
 Nyadran: kegiatan warga desa dalam rangka memperingati sesuatu dengan diadakan acara yang ramai atau besar.
 Mbeso: wayangan atau seperti tayub yang merupakan suatu tarian antara laki-laki dan perempuan diiringi dengan gamelan ataupun alat music jawa lainnya.





 






Narasi Sastra Lisan di Barengkrajan

Unknown
Rekaman Tanah Kerajaan
 Oleh: Ayu Puji Lestari
           Cahaya masa kerjaan mulai terekam dalam benak orang yang membuka kembali kitab sejarah dari ufuk barat. Bayangan Majapahit telah mengindahkan wajah lautan nusantara. Wajah Majapahit telah mampu menenangkan lautan yang tenang tak berombak-ombak. Senen, saat itu telah dipasrahi mengurus wilayah kadipaten yang masih menjadi bagian dari Majapahit. Dia (Senen) seakan-akan menjadi penjaga yang teguh, penuh wibawa dan pikulan tanggung jawab peranakan Majapahit yang penuh dengan kegaiban dan kemenangan. Saat itu, Pangeran Senen beristrikan seorang putri cantik yang berasal dari kalangan penari tandak. Dia akrab dengan bunga melati di rambutnya dengan pipi merona dan di sinilah awal mula pertemuan mereka akan diceritakan.
            Pada masa Majapahit masih identik dengan pesta rakyat kerajaan untuk merayakan sesuatu, seperti kemenangan, perkawinan, hasil bumi, dan sebagainya. Pangeran Senen mencoba untuk mengundang tandak sebagai simbol kemenangan untuk kebahagiaan masyarakat sekitar kerajaan. Perayaan itu dimulai tiga hari tiga malam dengan pesta yang meriah dan penuh dengan unsur sakral kerajaan. Perayaan dimulai dengan tandak dan tayupan seorang putri tandak yang molek dan ayu parasnya bernama Pandan Sari. Kain ngremo kesana kemari berhiaskan bunga melati dan sanggul hitam beraroma pandan. Putri tandak menari kesana kemari dengan penuh kemolekan tubuhnya ternyata menarik perhatian pangeran Senen untuk menikahinya dan menjadikannya seorang istri. Benih-benih cinta mulai tumbuh dengan kuat di antara keduanya setelah menikah. Pandan Sari setia mendampingi Pangeran Senen, baik di saat bahagia ataupun saat perang tiba-tiba terjadi.
            Pada suatu hari konon kabarnya, sebuah ramalan kerajaan menyebutkan akan terjadi sebuah peperangan besar antar kadipaten di wilayah Majapahit karena sebuah pusaka kramat. Hari demi hari mulai terasa angin hangat di sepanjang wilayah kadipaten Sukodono, kadipaten Trosobo, dan kadipaten Trong Trong. Di kadipaten Trong Trong dipimpin oleh Nyi Rondo Pecat. Dia mempunyai beberapa keturunan, di antaranya Mbah Kombor yang disuruh meguru di wilayah Demak Bintoro. Pada suatu hari, Nyi Rondo Pecat jatuh sakit, dia menyuruh pengawalnya mencari Mbah Kombor. Pada saat itu di tengah perjalanan bertemu dengan sekelompok orang, di situlah terjadi perkelahian atau pertempuran yang sangat hebat. Peperangan tersebut terjadi karena royo’an pusaka wilayah kerjaan antar kadipaten. Pertempuran berlangsung sangat tragis hingga pusaka desa sempat berpindah-pindah tempat, dari Bareng Dukur ke Trong Trong, dari Trong Trong ke Sukodono, dan hal itu terjadi terus menerus hingga keduanya meninggal dunia di tempat saat pusaka mencoba direbut dari kadipaten Trong Trong (yang sekarang bernama Terung Kulon dan Terung Wetan). Pertempuran itu terjadi antara kelompok Mbah Kombor dan utusan dari kadipaten Trong Trong. Pangeran Senen dikabarkan wafat dalam perang pada tahun 1559. Saat itu yang merawat jenazah Mbah Kombor adalah danyang Putri Pandan Sari. Danyang Pandan Sari ditemani oleh Pandan Melati sebagai parewangan yang dulu juga ikut tandak bersamanya saat pesta rakyat. Mulai dari cerita ini, ujung tanduk punden mulai terbentuk setelah dimakamkannya Pangeran Senen di kadipaten Jenggolo (saat ini bernama desa Barengkrajan). Selama kehidupan pernikahan danyang Pandan Sari dan Senen, mereka memeroleh beberapa keturunan yang ikut meneruskan zaman wilayah yang terbengkalai di beberapa tempat yang berbeda. Selang beberapa tahun, Pandan Sari akhirnya hidup dalam kedamaian bersama Pandan Melati di kadipaten Jenggolo. Mereka memimpin wilayah dan masyarakatnya dengan cara yang bijaksana sehingga masyarakatnya sejahtera.
            Lantunan gamelan Jawa selalu terdengar sepeninggal Pangeran Senen. Wahai, dari manakah pengarang yang lemah ini akan memulai menceritakan sebab-sebab Pandan Sari menjadi danyang di Desa Barengkrajan? Apakah dari sebab negerinya yang selalu mengadakan tradisi leluhurnya untuk nanggap wayang dan tandak setiap kali memohon agar wilayah mereka dijauhkan dari kelaparan, kekurangan sumber air, dan bencana? Di sawah-sawah yang bersusun-susun menjadi saksi sejarah? Ataukah di waktu gamelan Jawa mulai terdengar sampai melingkari aura desa yang sakral? Di dalam kalangan-kalangan warga sekitar, Pandan Sari diagung-agungkan karena telah melahirkan harapan baru dengan kepemimpinannya seorang diri sepeninggal suaminya si Senen. Pada akhirnya, Pandan Sari pun jatuh sakit dan dia dirawat oleh Pandan Melati hingga mereka wafat bersama dalam satu padepokan Islam di Bendomungal. Akhirnya mereka berdua dimakamkan oleh masyarakat di tempat sakral khusus di punden desa yang tinggi melambangkan Bareng Dukur telah lahir. Jenazah Senen, Pandan Sari dan Pandan Melati dimakamkan dalam satu wilayah di punden yang seterusnya akan dikramatkan selamanya hingga saat ini.


Foto 1: Makam danyang Nyai Pandan Sari (kanan) dan Raja Senen (kiri)
Sumber: dokumen pribadi

Putri Pandan Sari mempunyai beberapa keturunan yang meneruskan haluannya, di antaranya di tempatkan di Sidogirang yang sekarang ini di RT 1 RW 1, yang kedua di Kembang Mbah Kung atau Balong Jambe yang sekarang ini berada di RT 4 RW 2. Berikutnya ada yang ditempatkan di Sentono Rejo yang sekarang berada di RT 6 RW 2. Selanjutnya ada yang ditempatkan di Karang Kletak yang berada di RT 9 RW 3, ada juga yang ditempatkan di Karang Kitri yang sekarang berada di RT 8 RW 3, sedangkan yang umum adalah di Barengkrajan asli berada di RT 5 RW 2 yang merupakan punden pusat dari Nyai Pandan Sari, Nyai Pandan Melati, dan Pangeran Senin. Makam itu berdiri tegak menjulang dan tinggi bangunannya hingg saat ini. Makam itu berdampingan dengan tempat kramat pasangannya, yaitu sebuah sumur kramat yang dahulu diyakini sebagai sumber mata air penghubung dengan kadipaten Trong Trong. Makam dan sumur kuno tersebut dibangun dari material batu bata kuno yang merah merona berlapiskan darah perjuangan mendirikan kemakmuran wilayah kerajaan.

Foto 2: Punden Desa Barengkrajan
Sumber: dokumen pribadi


Foto 3: Sumur punden Desa Barengkrajan (belakang makam)
Sumber: dokumen pribadi


Foto 4: Tempat berdoa danyang dan sumur punden
Sumber: dokumen pribadi

Babad Alas Tanah Jenggolo
            Peraduan matahari sudah tampak disikapi oleh tanah rimbun Jenggolo (yang dulu berupa hutan rimba bekas wilayah Majapahit) yang mulai berangsur dibuka pada zamannya. Di sana sini kelihatan orang-orang sesepuh berlalu lalang mempersiapkan niatnya untuk mencari lahan agar tidak badar haluannya. Saat itu, ujung tanah Jenggolo sebelar lor, terlihat Sampur memulai kepemimpinannya mengajukan isi hatinya untuk mengajak para sebaya ikut serta meranggas rumput-rumput hutan di sepanjang wilayah Bendomungal hingga Bareng Dukur. Konon kabarnya, kalau ada orang yang bertambah matinya, mau dikubur di mana? Para sesepuh pun akhirnya mencoba bekerja sama dalam ribut-ribut babad alas Jenggolo yang saat itu masih dalam wilayah Demak Bintoro.
            Di waktu berbondong-bondong demikian, wilayah Jenggolo kelihatan hidup. Kepanasan dan kepayahan orang-orang sesepuh karena pekerjaannya, apabila telah sore diobati dengan menyaksikan matahari yang hendak terbenam teerlihat dari ujung kerajaan, lebih-lebih lagi bila suka pula pergi makan angin alas, yaitu panorama gelap hijau yang sengaja disuguhkan dekat bekas wilayah Majapahit. Di alas itulah, kira-kira ratusan tahun yang lalu, Sampur dan delapan sebayanya ikut babad alas wilayah Jenggolo, Bendomungal, dan Bareng Dukur yang masih jauh dari unsur politik kuno. Sebelah timur adalah Bendomungal yang merupakan tanah luas dan pusat peradaban Islam pada saat itu. Bendomungal dianggap suci oleh penduduk Bareng Dukur. Menurut kesepakatan orang tua-tua, bilamana Bendomungal dan Bareng Dukur akan bersatu dalam batas wilayah, maka makam dua wilayah harus dijadikan satu sebagai hibah perjuangan  dan itu telah terjadi sekitar kurang lebih 1816 hingga sekarang. 
            Sembilan orang yang terlibat babad alas terlihat antusias dalam ritual buka lahan. Mereka berbondong-bondong merayakan tradisi mereka dengan turut meminta izin pada pawang Desa Jenggolo. Sepeninggal pahlawan desa (Pandan Sari, Pandan Melati, Senen) itu tampak sangat diagung-agungkan oleh warga sekitar Jenggolo, Bendomungal, dan Bareng Dukur. Mereka mempercayai bahwa lahan hutan tersebut akan dibuka untuk menyatukan wilayah pemukiman dan pemakaman di antara ketiganya agar tidak badar haluan dan perang kembali karena kekuasaan. Mereka membuka lahan hutan dengan tujuan membuka penghidupan baru bersama para warga lain dengan misi menyebarkan Islam di pusat Bendomunal. Lahan makin lama makin luas gundulnya, berubah menjadi ladang-ladang, kebun, sumber air, gubuk-gubuk, dan jalan setapak.
            Ritual buka lahan dilakukan oleh sembilan orang sesepuh yang bergotong royong merangkas alas Bendomungal. Dua di antaranya berasal dari Bareng Dukur, yaitu Sampur dan Pekik. Sedangkan tujuh lainnya berasal dari Bendomungal dan Jenggolo lor, akan tetapi tidak dikenali namanya saat sumber yang dicari (buku sejarah desa) telah hilang karena pengaruh aturan hukum peradaban Islam yang semakin pesat saat itu. Wilayah yang dibuka pertama kali adalah wilayah Demak Bintoro yang masih sekerabat dengan Ngampel Dinto yang berada pada garis wilayah Majapahit, tepatnya di wilayah Krian Bareng Dukur sebagai titik babad pertama. Batas babad alas mulai dari wilayah Driyorejo sebelah lor, sedangkan kidule jalan masih ikut Majapahit. Berbeda pula jika Driyorejo bagian barat sudah masuk wilayah Surabaya saat itu. Kegiatan yang dilakukan sesepuh songo saat itu meliputi wilayah Pendopo Agung yang dijadikan bangunan pertama kali untuk lambang membuka lahan sebagai wilayah desa oleh sesepuh Munajat.  Setelah babad alas diselesaikan sedikit demi sedikit, mulai membentuk 9 cakupan wilayah yang berbeda-beda namanya karena yang turut mangkasi alas berjumlah 9 orang, antara lain Bendomungal, Bareng Dukur, Jenggolo, Barengkrajan, Bareng Pesantren, dan empat cakupan lagi tidak terdeteksi nama wilayah aslinya karena dianggap ikut dalam cakupan Bareng Dukur sebagai induk wilayahnya yang paling tinggi letak geografisnya.  
            Darah muda lahan masih tercium dalam sanubari sesepuh. Mereka hendak menyatukan wilayah-wilayah babad alas yang telah rampung menjadi satu lahan tumpu Pendopo. Sembilan cakupan lahan yang ada mulai diberi nama agar para keturunan dapat hendak kawin, hendak berumah tangga, hendak melawan laga kawan-kawan sesama gadang untuk penyatuan sesepuh songo. Tetapi hal itu banyak mendapat halangan karena perdebatan segala bentuk bumi, seperti lahan, sawah, lading, dan makam. Lagi-lagi sesepuh adat mencoba menegakkan hukum adat atas pembagian wilayah agar tidak terjadi keserakahan. Pada suatu hari, malang akan timbul, terjadilah pertengkaran di antara sesepuh songo. Pemimpin Bendomungal hendak mendirikan wilayah sendiri agar terpisah dari Bareng Dukur dan Jenggolo. Saat itu Bendomungal sudah mulai menyebarkan pusat ajaran Islam sebagai titik tumpu terbentuknya Bareng Pesantren. Perkataan itu dikatakan di atas Pendopo Agung Bareng Dukur, di hadapan anak cucu yang lain. Berkali-kali penolakan pusaka wilayah dibawa ke sana kemari untuk mendapat hak kekuasaan desa. Akhirnya tujuh wilayah babad alas sepakat untuk dijadikan tiga wilayah besar, yaitu Bareng Dukur, Bendomungal, dan Barengkrajan yang biasa disebut Ibuk’e Wak Sini.
            Bertahun-tahun berlalu dalam kemakmuran akibat aura positif sang danyang desa yang memberi kemakmuran pada desa Barengkarajan dan Bendomungal. Pundak topang desa terasa sebagai pemberi kerukunan antar warga yang mau menghormatinya sebagai wujud penghormatan karena telah melahirkan desa ini sebagai wujud kemerdekaan dan saksi bisu perjuangan antar tiga kadipaten, yaitu kadipaten Sukodono, kadipaten Trosobo, dan kadipaten Trong Trong. Hingga saat ini hubungan antar tiga kadipaten tersebut apabila dicari tahu akan menemukan keterlibatan sejaran dan hubungan antar punden desa.
            Mirisnya, saat kitab sejarah akhirnya dinyatakan hilang oleh sesepuh desa. Padahal saat itu wilayahnya mencakup dari Bendomungal hinggal Sukodono, hanya saja nama-namanya banyak yang tak lagi teringat. Hal itu dikarenakan masuknya Islam pada zamannya sudah mampu merubah paradigma masyarakat kuno. Semua sejarah dihilangkan lacaknya karena dianggap mempengaruhi keyakinan hati yang murni harus beragama Islam. Semua orang seperti tidak berani melisankan kembali sejarah itu. Oleh karena itu, apakah ada pelajaran sejarah saat ini? Padahal pelajaran sejarah itu dinilai penting sebagai pedoman pengetahuan tentang budaya. Maka dari itu sekarang cara mencari seluk-beluk sejarah pun agak susah rasanya. Hilangnya sejarah itu sekitar tahun 1961. Pelajaran sejarah sudah tidak lagi diajarkan. Hanya diajarkan untuk dihafalkan tetapi tidak dapat nilai di sekolah. Percayalah, apabila dunia sudah rusak, maka manusianya juga akan ikut rusak. Apalagi sekarang zamannya sudah politik. Islam saja dinilai politik yang dahulunya 72 sekarang sudah 92 macam Islam dengan banyak anggapan dan dasar yang beragam.



Sepeninggal Danyang Pandan Sari
            Bilamana setiap orang telah sampai ke Barengkrajan, desa yang dituju ataupun dicari, telah diteruskannya perjalanan ke Dusun Barengkrajan dengan wajah klemis penuh cahaya dari aura danyang dari punden katanya. Menurut keterangan orang setempat, di sanalah negeri dengan penduduk yang klemis dan bersinar wajah-wajahnya laksana kejatuhan bintang dari langit, tidak menyangka-nyangka akan beroleh desa yang pendirinya seorang tandak cantik yang gemulai, yang menurut adat Barengkrajan dinamai ibu’e  wak Sini. Maklumlah, orang di sana masyur di dalam menerima orang baru asalkan mempunyai niatan baik dan ijin dengan danyang. Pada sangkanya semula, jika ada orang lain datang ke Desa Barengkrajan, dia harus berhenti ketika melewati punden dan diharuskannya sungkem untuk memohon ijin lewat dan keselamatan perjalanan hidup. Padahal seketika ada orang lewat jalan Sentono, dia harus memiliki hati dan niat yang baik untuk memasuki Desa Barengkrajan agar memeroleh pangestu dari Nyai Pandan Sari sang danyang Barengkrajan. Maklum, dahulu peringatan Islam masih bercampur dengan animism dan dinamisme masyarakat. Apabila terdapat sepasang pengantin pun juga harus berhenti ketika melewati sentono untuk sungkem sejenak dan memohon restu kebahagiaan bahtera rumah tangga baru. Maka dari itu, dahulu para buyut selalu berdoa dalam hati mengingat danyang Barengkrajan agar anak cucu mereka diberi keselamatan dalam bekerja. Setiap terdapat dokar melintas juga harus berhenti untuk sungkem pada sigit. Apabila tidak izin dikhawatirkan akan datang bahaya dalam desa yang tidak terduga-duga. Bukankah orang-orang terdahulu memiliki gugon begitu adanya? Sehingga kepercayaan itu akhirnya menjadi kebiasaan hingga sekarang ini.
            Selepas Nyai Pandan Sari wafat, masyarakat desa selalu melakukan wujud penghormatan dan penghargaan kepadanya. Setiap ada orang yang punya gawe selalu bancakan di hari kamis dengan membawa nasi tumpeng dan cok bakal ke atas punden untuk dimakan bersama antar kaum laki-laki. Tradisi makan bersama biasanya berlangsung sebelum matahari tergelincir (sebelum dhuhur). Tradisi lainnya yang harus diabadikan adalah melaksanakan ruwat deso setiap tahun di bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Ruwat deso berarti menghilangkan apes desa. Biasanya terjadi menjelang bulan ramadhan. Sebenarnya sebutan paling sopan saat ini adalah sedekah bumi sebagai wujud syukur pada Yang Maha Kuasa atas kesejahteraan desa yang diberikan setiap tahunnya. Masyarakat Barengkrajan percaya bahwa tradisi ruwah deso harus dibarengi dengan pagelaran wayang kulit karena dahulunya danyang desa adalah seorang penari tandak di pewayangan. Apabila tidak diadakan pagelaran wayang dan sedekah bumi, ditakutkan Desa Barengkrajan akan terkena bencana dan wabah penyakit. Hal ini didasarkan pada pengalaman nyata pada puluhan tahun silam. Desa Barengkrajan pernah meninggalkan tradisi ruwah deso sekali dan akhirnya bencana desa datang menyerang secara tiba-tiba. Musibah itu diyakini sebagai bentuk kemarahan danyang Barengkrajan karena dianggap lalai dan melupakan jasa pahlawan desa. Sawah-sawah desa diserang hama wereng hingga akhirnya gagal panen dan warga desa dilanda kelaparan dan kekeringan sumber mata air. Setiap rumah terkena serangan wereng hingga terganggu tidurnya saat tengah malam. Akhirnya, atas inisiatif dari salah satu warga desa memutuskan untuk mengadakan pagelaran wayang mendadak dengan niat pribadi menyelamatkan kutukan desa.
            Pagelaran wayang yang diadakan setiap bulan Ruwah dijadikan pundak topang pertahanan keamanan desa dengan danyang. Pagelaran wayang berlangsung mulai dari pagi hari hingga keesokan harinya. Pagi hari diadakan tandakan dengan saweran sebagai lambang danyang. Siang hari dilanjutkan dengan tarian Remo khas wayang Jawa, dan malam hari hingga subuh adalah acara puncak wayang kulit desa. Menurut kepercayaan warga, setiap tengah malam saat pagelaran wayang kulit mencapai puncak cerita, dalang akan berinteraksi dengan danyang lewat salah satu tokoh wayang yang dimainkan dalang. Salah satu wayang akan dirasuki jiwa gaib dengan member pesan-pesan nasihat untuk warga desa.


Foto 5: Pagelaran Wayang Kulit saat Ruwat Deso Barengkrajan
Sumber: Karang Taruna Barengkrajan


           
            Berdasarkan kepercayaan masyarakat desa Barengkrajan tentang danyang desa yang pada dasarnya adalah seorang penari tandak yang cantik dan penuh dengan wangi-wangian pandan dan bunga melati, masyarakat desa melarang ada warga perempuan yang berdandan terlalu cantik. Hal ini dikarenakan ketakutan masyarakat desa Barengkrajan apabila ada orang yang berusaha menyaingi kecantikan Nyai Pandan Sari. Mereka tidak boleh berdandan terlalu berlebihan dan memakai melati terlalu banyak karena itu hanya boleh menjadi ciri khas Nyai Pandan Sari. Jadi, setiap perempuan yang masuk Desa Barengkrajan untuk tandak dilarang berdandan terlalu berlebihan dan dilarang memakai wewangian dan bunga melati terlalu banyak. Identitas Nyai Pandan Sari yang cantik, berbalut melati dan wewangian segar hanya boleh dimiliki dirinya sendiri. Hingga saat ini, tidak seorang pun warga yang berani berniat menyaingi kecantikan Nyai Pandan Sari.
            Selain punden yang berdiri tegak di Barengkrajan, terdapat sebuah sumur tua yang masih memiliki hubungan dengan punden desa. Sumur tua yang berada di belakang punden masih terdapat hubungan dengan punden desa. Sumur itu dipercaya memiliki aura gaib dan sakral. Sumur itu dianggap kramat oleh warga desa karena dihuni oleh ular gaib sebesar buah kelapa. Apabila kita ingin melihat ular tersebut, kita harus bertapa dan puasa terlebih dahulu untuk melihatnya. Siang puasa, malamnya topo dan mele’an bersila sampai mendapat wahyu dan didatangi oleh ular tersebut. Ular itu dipercaya menjadi utusan Nyai Pandan Sari untuk menyampaikan wahyu-wahyunya pada warga desa yang terpilih untuk diberkati.
            Maklum saja jika sumur tersebut sangat kental dengan aura gaibnya karena dahulu pernah da seorang warga desa Barengkrajan yang berniat mendirikan sebuah padepokan ludruk di desanya. Setiap hari di siang hari selalu melakukan latihan peran di sanggar Pendopo Agung. Ambisi Maknut agar ludruknya menjadi jaya membawanya ingin semedi di punden Pandan Sari agar mendapat restu dan wahyu. Hal itu dilakukannya dengan berpuasa dan bertapa hingga mendapat wahyu. Saat wahyu datang pada Maknut, dia berasil dibangunkan oleh sebuah cahaya yang berkilauan. Cahaya tersebut adalah sebuah perangkat pakaian remo yang berkilau dan pating clorot warnanya. Akan tetapi, dia tidak langsung mengambil pusaka tersebut saat mengetahui yang member pusaka remo tersebut adalah seekor ular sebesar ular naga yang membawa pakaian remo di mulutnya. Maknut merasa gemetar dan akhirnya tidak tatak mengambil pusaka tersebut dan akhirnya keplayu dan badar halauannya.
            Ada yang mengatakan pada zaman dahulu, apabila terdapat ular melintas di Barengkrajan dilarang untuk dibunuh karena ditakutkan ular tersebut mendo-mendo dari utusan punden desa. Ada yang mengatakan ular sentono bercirikan ekor buntung dan ukuran tidak terlalu panjang. Oleh karena itu, warga desa selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan apabila bertemu dengan ular di desa sebagai wujud berhati-hati. Warga hanya cukup mengusir ular dengan garam dan tidak perlu membunuhnya. Begitu banyak kepercayaan masyarakat Dusun Barengkrajan terkait punden yang menjadi pundak topang bermacam-macam budaya dan tradisi warga. Hal ini membuat adik zaman harus terus menyaksikan kearifan lokal bumi manusia yang semakin lama semakin maju. Tentu saja tidak akan terlepas dari unsur keyakinan masing-masing manusia dan berdasar paradigma dan tingkat ketertarikan mempelajari sejarah.


Foto 6: Bangunan Punden Barengkrajan yang Tinggi

Sumber: dokumen pribadi


GLOSARIUM
Kadipaten        : daerah yang dikuasai oleh seorang adipati
Babad alas      : membuka lahan baru
Danyang         : penjaga
Kali                 : sungai
Punden            : tempat terdapatnya makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa
Buyut               : ibu dari nenek
Mbah               : nenek
Dipasrahi        : diberi amanah/kepercayaan
Tandak            : tari ronggeng
Tayupan          : pagelaran tarian yang dilakukan laki-laki dan perempuan diiringi gamelan dan tembang.
Ngremo           : tari remo
Meguru            : berguru
Royo’an           : berebut sesuatu
Parewangan    : orang kepercayaan
Nanggap         : menghadirkan suatu pertunjukan
Sesepuh           : orang tua yang dihormati
Badar              : gagal
Lor                  : utara 
Alas                 : hutan rimba
Hibah              : hadiah
Kidule              : sebelah selatan
Songo              : sembilan
Ibuke wak Sini : dataran yang dianggap paling rendah oleh masyarakat
Klemis             : mulus; halus
Sungkem          : tanda bakti hormat
Sentono           : tempat terdapatnya makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa
Pangestu         : restu
Dokar              : delman
Sigit                 : tempat terdapatnya makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa
Gugon             : aturan masyarakat yang berlaku dan harus dipatuhi; pakem
Gawe               : hajatan
Bancakan        : berbagi rezeki dan kebahagiaan
Cok bakal        : sesaji untuk ritual sakral Jawa
Ruwat deso      : sedekah bumi; menghilangkan kesialan desa
Apes                : sial
Saweran          : meminta uang pada penonton kepada pemain tari
Topo                : bertapa; berdiam diri agar mendapat wahyu
Melekan           : begadang; tidak tidur
Ludruk             : kesenian budaya Jawa yang berisikan sabdiwara yang dipertontonkan dengan menari dan menyanyi
Semedi             : bertapa; berdiam diri agar mendapat wahyu
Pating clorot   : sangat berkilau di setiap sisi dan sudut
Keplayu           : berlari-lari terbirit-birit
Mendo-mendo : menyamar
Pamong           : pengurus desa
Nyawer            : memberi uang kepada penari
Ngeruwat        : menghilangkan kesialan
Diarak             : diiringi
Merang            : dupa
Anak-putu        : anak-cucu
Wit                   : pohon

Bebarengan     : bersama-sama